jump to navigation

(Masih Ada) Kerusakan Pada Televisi Anda April 17, 2014

Posted by dianika wardhani in Catatan Kecil.
Tags:
add a comment

Riuh rendah dan gegap gempita memang masih memayungi keberadaan media dalam kehidupan kita. Termasuk televisi. Semuanya (baca : stasiun televisi) berlomba meraih simpati konsumennya. Segala dan berbagai upaya dilakukan demi satu tujuan : memaku pemirsanya agar tak pindah channel. Titik!

 

Realitas televisi kita memang begitu. Dan faktanya, televisi belum sepenuhnya aman dan ramah kepada anak-anak kita. Mengikuti trend dan keinginan pasar adalah dalih mujarab untuk ‘menghalalkan’ segala bentuk acara. Padahal, pertanyaan berikutnya yang perlu diajukan adalah keinginan pasar mana yang ingin dijadikan imam dalam menentukan program dan format acara? Rasanya ini perlu ada warning bagi seluruh owner, pengelola media bahkan seluruh rakyat Indonesia bahwa masih ada masalah dengan televisi kita.

 

Teori marketing manapun pasti membenarkan bahwa segmen potensial yang dapat dijadikan sebagai target adalah perempuan (ibu) dan anak-anak. Jika anaknya sudah dapat dibujuk maka sang anak akan merengek kepada ibunya. Jika sang ibu memutuskan iya maka selesailah persoalan bagi produsen atau penyedia jasa. Itulah ajaran marketing paling purba yang rasanya masih tetap aktual sekaligus faktual dan layak dipercaya.

Akan tetapi, ajaran itu rasanya tak lantas diejawantahkan secara membabi buta. Bukan berarti melupakan aspek yang tak kalah penting yakni pendidikan dan pengajaran serta keteladanan. Berikut ini ada beberapa unsur yang seharusnya dianggap sebagai masalah bagi mereka yang masih peduli pada kelangsungan generasi penerus.

Pertama, sadisme. Unsur ini sering ada dalam berita, khususnya kriminal. Seharusnya dalam menyajikan hal-hal yang berbau sadisme, televisi memberikan efek blur untuk mengaburkan objek yang berlumuran darah dan sebagainya. Beberapa stasiun televisi konsisten melakukannya. Akan tetapi tidak sedikit stasiun televisi yang mengabaikan hal itu. Sadisme juga sering muncul di film-film. Bahkan terkadang muncul di film kartun yang notabene adalah milik anak-anak.

Kedua, eksploitasi. Perempuan dan eksploitasi dalam kehidupan media kita seperti dua sisi mata uang. Tak terpisahkan. Seharusnya memang bisa saling melengkapi dan menunjang. Kenyataannya, kehadiran perempuan sering dipaksakan dalam konteks tertentu. Sebut saja diantaranya dalam konteks iklan-iklan tertentu. Tak ada hubungan antara cat dengan perempuan. Terlebih jika perempuan tersebut harus mengenakan pakaian seksi. Ironisnya, banyak perempuan yang beranggapan bahwa hal itu sama sekali tidak merugikan. Tak sedikit juga yang memanfaatkan ceruk itu untuk mengeruk keuntungan materi.

 

Ketiga, pornografi. Unsur ini amat dominan pada iklan dan film-film. Tak hanya film produksi Barat. Sinema elektronik (sinetron) produksi dalam negeri kita juga ikut-ikutan tertular virus pornografi. Bahkan film kartun yang selama ini dianggap snack bagi anak-anak pun terjangkiti. Seorang tetangga bercerita bahwa kini ia tak lagi mengijinkan sang buah hati menonton sebuah film kartun. Ketika ditanya alasannya, serta merta ia menjawab bahwa ada sisi porno dalam film kartun tersebut. “Ada pornonya,” ujarnya sembari menjelaskan bahwa ada tokoh hewan yang mengenakan bikini.

Ketiga unsur tersebut sesungguhnya adalah persoalan klasik sekaligus aktual. Disebut klasik karena senantiasa disebut disaat memperbincangkan tentang persoalan perempuan dalam perspektif media massa. Aktual karena sampai saat ini, persoalan perempuan di media masih saja berkutat pada ketiga unsur tersebut.

Ironisnya, ketiga unsur itu sering muncul pada saat primetime. Pada waktu-waktu tersebut, anak-anak tentunya masih ada di depan televisi. Tak bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan mental mereka jika para orang tua tidak mendampingi dan menjadi pemandu saat memilah memilih acara televisi.

Saat ini tak perlu berdebat siapa yang seharusnya berperan mengatasi hal-hal tersebut. Peringatan Hari Perempuan Internasional tahun ini semoga dapat menjadi saat muhasabah bagi semua pihak. Amar yang diamanatkan melalui hasil Konferensi Beijing pada tanggal 4 – 15 September 1995 berupa Deklarasi Beijing dan 12 Landasan Aksi yang diantaranya adalah Perempuan dan Media Massa. Para delegasi negara yang saat itu hadir, termasuk Indonesia menyepakati seluruh landasan aksi tersebut. Dengan demikian, tak ada lagi alasan untuk tidak berpartisipasi aktif dan menyukseskan gerakan bercita-cita mulia itu. Gerakan bersama untuk mewujudkan generasi penerus yang lebih baik!