jump to navigation

Sekali Lagi Tentang Cinta Terlarang January 5, 2015

Posted by dianika wardhani in Buku.
add a comment

 

 

coverbuku Alexia Chen ok

Judul buku                                        : A Girl Who Loves A Ghost
Penulis                                                : Alexia Chen
Penerbit                                              : Javanica (PT Kaurama Buana Antara), Tangerang
Tahun Terbit                                      : November, 2014
Tebal buku                                          : 549 halaman
Peresensi                                             : Dianika W. Wardhani

 

Para penikmat dan pecinta film drama romantis tentu masih menyimpan ingatan tentang film berjudul Ghost. Film yang dibintangi Demi Moore dan Patrick Swayze itu populer di seantero jagat. Tak hanya soal isi dan alur ceritanya, bahkan model rambut Demi Moore saat itu menjadi trend di berbagai belahan dunia.

Menekuni novel terbaru karya Alexia Chen ini, kita seolah menyimak versi lain film Ghost. Alexia melakukan eksplorasi secara amat detail dan sensasional dua tokoh dari dua dunia yang berbeda. Dunia nyata dan dunia lain. Melalui dua tokoh, Aleeta Jones dan Nakano Yuto, Alexia menghadirkan kisah cinta. Indah tetapi terlarang.

Alexia mengawali novelnya dengan selintas kejadian percobaan pembunuhan yang dialami oleh Aleeta Jones saat berupaya melepaskan diri dari kejaran pembunuh Yuto, putra keluarga pengusaha besar Nakano, dirampok dan dibunuh dalam mobilnya oleh sekelompok orang pada saat perjalanan pulang dari kantornya. Sama seperti tokoh Sam Wheat dalam film Ghost yang diperankan oleh Patrick Swayze, Yuto pun belum rela meninggalkan dunia. Ia menyimpan amarah dan dendam pada gerombolan pembunuhnya. Ia pun bertekad mencari jalan untuk balas dendam. Tetapi tentunya tak mudah karena ia kini berada di dunia lain. Ia harus menemukan seseorang yang bisa menolongnya.

Harapan itu muncul ketika tiba-tiba ia merasakan tubuhnya melayang lalu berada di hadapan sosok Aleeta Jones, mahasiswi blasteran Indonesia – Amerika. Gadis bermata biru itulah yang tiba-tiba menyebut nama lengkap dan mendoakannya. Ia tak mengenal gadis itu. Tetapi ia tahu bahwa Aleeta bisa melihatnya (halaman 17). Dengan demikian tentu saja ia bisa menolongnya.

Aleeta mampu melihat kehadiran Yuto karena ia mewarisi kelebihan Qi Yue, buyutnya yang seorang cenayang atau bisa berhubungan dengan makhluk halus. Aleeta tak serta merta mengabulkan keinginan Yuto karena ia harus kuliah dan hari-harinya penuh tugas kampus. Yuto tak menyerah. Ia terus mengganggu Aleeta. Pada saat inilah, Alexia menyuguhkan situasi yang menggelikan. Pembaca dibuat tersenyum bahkan tertawa. Aleeta menuliskan kejengkelannya atas kehadiran dan pemaksaan Yuto (halaman 77-79). Yuto nekad merasuki Mr. Mulder, dosen Aleeta sehingga tiba-tba bertingkah aneh. Mr. Mulder tiba-tiba meninggalkan kelas sebelum jam mata kuliahnya berakhir (halaman 84). Aleeta pun merasa tak ada pilihan lain kecuali mengabulkan keinginan Yuto. Petualangan Aleeta pun dimulai. Ia sama sekali tidak mengira jika diajak Yuto untuk membalas dendam pada para gerombolan pembunuh. Pada awalnya Yuto hanya meminta tolong kepadanya untuk mencari Hiro, adik Yuto yang pergi dari rumah.

Seiring dengan berbagai peristiwa yang dialami bersama, baik Aleeta maupun Yuto mulai merasakan perasaan lain. Yuto merasa tak sekadar mengagumi gadis blasteran aneh dan unik itu. Aleeta berbeda dengan gadis-gadis yang sempat ditemuinya. Tak ada kemunafikan dan kebohongan yang biasanya menempel erat pada seorang wanita. Yuto merasakan kegembiraan yang tidak pada tempatnya (halaman 188-189). Aleeta pun mengakui bahwa dirinya jatuh cinta pada Yuto dan bukan pada Ben yang sejak lama dikejar-kejarnya (halaman 392).

Keinginan Yuto pun terkabul atas upaya keras yang dilakukannya bersama Aleeta dengan dijobloskannya Rizal, sahabat dari Nakano Ryuichi, ayah Yuto. Rizal adalah otak pembunuhan atas diri Yuto (halaman 403). Rizal menyuruh David dan teman-temannya menghabisi Yuto.

Aliexa kembali mengharubirukan perasaan pembaca saat tiba perpisahan antara Aleeta dan Yuto. Saat mereka menyadari bahwa hubungan mereka tidak mungkin berlanjut. Aleeta berusaha melawan kenyataan itu meski ia harus mati untuk menyusul Yuto. Tetapi tiba-tiba saja ia teringat perkataan Qi Yue. Dalam hal ini, kaulah yang harus melakukannya. Karena Aleeta, jangan biarkan cinta kalian berubah menjadi penderitaan. Jangan memenjarakan jiwanya. Biarkan ia pergi dalam damai (halaman 519).

Sensasi lain dari novel ini adalah Alexia dengan seenaknya saja bersikap tidak konsisten dalam memainkan tokoh aku. Pada satu saat, tokoh aku menunjuk pada sosok Aleeta. Lain waktu, tokoh aku berganti menyaran pada sosok Yuto. Hal itu dilakukan Alexia tanpa pemberitahuan pada pembaca. Pada halaman 60, tokoh aku mewakili sosok Yuto. Pada halaman 67, tiba-tiba tokoh aku berubah menjadi Aleeta.

Akan tetapi pada bagian selanjutnya, Alexia memberi tahu pembaca terlebih dahulu bahwa tokoh aku yang akan diceritakannya pada alinea. Alexia menuliskan kata Aleeta atau Yuto pada bagian atas alinea. Hal itu menunjukkan bahwa deretan kalimat di bawahnya merupakan kisah sosok aku yang menyaran pada Aleeta atauYuto.

Kehadiran novel ini menambah panjang daftar novel berkisah tentang cinta. Pesan moral yang ingin disampaikan dalam novel ini adalah rasa cinta tak hanya terbatas ruang dan waktu, tetapi cinta itu kekal bagi mereka yang percaya. Kekal disimpan dalam hati masing-masing untuk selamanya.