jump to navigation

Menyingkap Identitas Wali Masa Kini April 17, 2014

Posted by dianika wardhani in Uncategorized.
add a comment

 

Judul buku                                          : Bukti-bukti Gus Dur itu Wali

99 Kesaksian Tak Terbantahkan dari Sahabat Orang Dekat, Kolega dan Keluarga

Penulis                                                : Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin

Penerbit                                               : Renebook, Jakarta

Tahun Terbit                                        : Januari, 2014

Tebal buku                                           : xxviii + 224 halaman

 

Banyak sekali julukan dan sebutan yang dialamatkan kepada sosok bernama lengkap Abdurrahman Wahid ini. Mulai Guru Bangsa, tokoh pluralis, tokoh moderat hingga kiai. Akan tetapi diantara deretan panjang sebutan tersebut, adalah satu identitas yang melekat di hati masyarakat yakni Gus. Kemudian terangkailah dengan namanya hingga populerlah singkatan GD alias Gus Dur.

 

Dalam dialek Bahasa Jawa Timuran, Gus berarti panggilan pada kakak laki-laki. Awalnya hanya terbatas pada yang memiliki hubungan saudara atau pertalian darah. Pada perkembangannya Gus itu menjadi sapaan akrab bagi orang laki-laki yang dituakan, diteladani, dianut dan sebagainya. Seluruh masyarakat Indonesia bahkan sebagian warga di berbagai belahan dunia bersepakat memanggil Gus pada mantan Presiden Republik Indonesia itu. Tak penting siapa yang memulai. Tetapi yang pasti, sosoknya memang layak dihormati layaknya saudara tua sekaligus dijadikan panutan. Lebih luas lagi, sosok panutan itu dalam nuansa religius (baca : Islam) disemati sebutan Wali.

Membicarakan Wali masa kini satu ini seakan tak pernah habis. Sosok mantan Presiden Republik Indonesia itu memang amat fenomenal. Lelaki kelahiran Jombang itu melekat di hati masyarakat lintas batas. Ia adalah sosok inspiratif. Dirinya adalah sumber inspirasi yang tak berbatas. Berbagai sisi dirinya menginspirasi orang, dikenang.

 

Sepeninggalnya,banyak yang berpendapat bahwa ia adalah wali. Khalayak ramai tak membantah tentang itu. Tiap saat dan tiap waktu, banyak orang yang berduyun-duyun mengunjungi tempat peristirahatannya. Menghidupkan warga sekitarnya membangun sektor informal mulai berjualan makanan, minuman, buku-buku kecil tentang sosok bernama lengkap Abdurrahman Wahid itu hingga beragam souvenir lainnya. Keberadaan tempat peristirahatannya telah menggerakkan denyut perekonomian warga sekitarnya. Belakangan, disebut-sebut tak afdhal jika melakukan perjalanan ziarah walisongo tetapi tidak mengunjungi makam Gus Dur. Entah siapa yang mulai menghembuskan pernyataan itu. Nyatanya makamnya tak pernah sepi dari pengunjung dari waktu ke waktu.

 

Bisa jadi, fenomena tersebut menjadi salah satu penyebab disusunnya buku ini. Mozaik tulisan hasil penelusuran dari kesaksian banyak orang yang bermuara pada satu kesimpulan: Gus Dur adalah Wali.

 

Tak berlebihan jika penerbit dalam pengantarnya di buku ini terasa begitu menggebu-gebu. Begitu mengagungkan Gus Dur. Gus Dur adalah berita, guyonan, sepakbola, presiden, partai dan semuanya. Sebelum kata-kata alay dan lebay populer, kalimat yang lebih dulu populer adalah “Gitu aja kok repot”. Ia sangat otentik, orisinal, genius dan tak mudah dipengaruhi orang se-Indonesia sekalipun. Gus Dur itu angin, tidak ikut kemana angin berhembus. Ia diikuti. (h. ix)

 

Gus Dur adalah pelopor bukan pengekor. Ia pemimpin meski tak jarang membuat para pengikutnya kebingungan. Tetapi mereka seolah tak mempermasalahkan hal itu. Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan hal senada. Tertulis di antara komentar banyak tokoh di sampul belakang buku ini, Ketua Umum PP Muslimat NU itu menyatakan bahwa jika ada statemen Gus Dur yang membingungkan banyak orang, warga NU langsung memaklum. Bahkan jika ada hal yang dianggap aneh, mereka pun langsung memaafkan dan menganggap itu bagian dari kewalian Gus Dur.

 

Gus Dur punya banyak kelebihan. Diantaranya dapat berkomunikasi dengan wali yang telah lama meninggal. Disebutkan salah satunya adalah Sunan Gunung Jati. Mantan Sekretaris Jenderal PBNU, H. Arifin Junaidi. Arifin Junaidi menceritakan suatu saat ia menemani Gus Dur bertemu dengan KH Fuad Hasyim, pengasuh Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Agenda selanjutnya adalah ke Pekalongan, sowan Habib Luthfi bin Yahya. Tiba-tiba sopir diajaknya kembali ke Astana Gunung Sembung, Cirebon. “Saya dipanggil Sunan Gunung Jati,”kata Gus Dur. Uniknya, di tengah malam buta itu, para juru kunci makam sudah berkumpul lengkap dengan seragam kebesaran yang biasanya dipakai menerima tamu istimewa. Koordinator jurukunci menyatakan bahwa itu berdasarkan pesan Kanjeng Sunan,”Cucuku mau datang ke sini.” (h.24)

 

Ya, Gus Dur adalah fenomena. Sosoknya menarik sekaligus menggelitik. Ia menembus batas. Keberadaannya diterima lintas golongan. Frans Magnis Suseno, seorang tokoh Katolik melalui komentarnya juga amat menghormati sosok Gus Dur. Dihadapan Frans Magnis, Gus Dur adalah sosok yang dengan wibawa dan yakin dan dengan tidak kenal rasa takut, mencerahkan umatnya, agar menghayati jalan Tuhan dengan lebih benar adalah seorang wali. Itulah pencerahan yang dipancarkan Gus Dur.

 

Gus Dur itu sosok yang weruh sakdurunge winarah, tahu sebelum kejadian. Gus Dur dapat mengetahui peristiwa yang belum terjadi. Banyak orang yang memberikan kesaksian tentang hal itu. H.Sulaiman menceritakan tentang penerawangan Gus Dur mengenai banjir besar kota Jakarta. Asisten Gus Dur itu menyampaikan satu siang pada tahun 2002, ia ditelepon Gus Dur yang saat itu berada di Medan. Gus Dur menyampaikan akan ada banjir besar melanda Jakarta. Untuk itu, H. Sulaiman harus memberitahu para sahabat yang bermukim di daerah Kelapa Gading agar mengungsi. Hanya, H. Sulaiman tak mengindahkan permintaan Gus Dur itu. “Saya pikir, kalau memang benar-benar ada banjir, nggak apa-apa. Tapi kalau ternyata nggak terjadi banjir dan sudah menyuruh orang mengungsi, kan saya yang berabe (repot),” kata H. Sulaiman. (h.81)

 

KH. Nuril Arifin atau Gus Nuril mendapat isyarah dari Gus Dur bahwa Pulau Jawa akan terbelah. Dalam waktu tak terlalu lama setelahnya, muncul kejadian lumpur Lapindo, yang menimbulkan penderitaan bagi ribuan masyarakat di Sidoarjo. (h. 113)

 

Sesungguhnya buku ini hadir sebagai bacaan yang ramah, fleksibel terlebih berbagai diungkapkan kesaksian disampaikan dengan gaya bercerita. Beberapa humor khas Gus Dur yang dihadirkan dalam buku ini menjadi bumbu sehingga lebih sedap. Di bawah judul Akal Bulus Gus Dur, humor ini amat menyegarkan. Diceritakan semasa kuliah di Kairo, Mesir, Gus Dur ngontrak bersama 20 orang mahasiswa asal Indonesia. Ada kesepakatan pembagian tugas rumah termasuk membersihkan dan memasak. Setiap giliran Gus Dur yang memasak, seolah makan besar. Selalu masak kepala ikan dalam jumlah besar. Belakangan diketahui kepala-kepala ikan itu hasil pemberian penjual ikan asal Turki yang mendapat cerita dari Gus Dur bahwa ia memelihara 20 anjing yang membutuhkan kepala ikan. (h.171)

 

Terlepas apapun, kehadiran buku ini layak diapresiasi. Buku ini mencoba menghadirkan kesaksian orang-orang tentang kelebihan berikut sisi lain pribadi sosok Gus Dur yang jarang dilirik bahkan tidak terpikir oleh masyarakat. Buku ini berupaya membuktikan ke-wali-an Gus Dur. Anda mau percaya atau tidak, silakan. Gitu aja kok repot.

 

 

(Masih Ada) Kerusakan Pada Televisi Anda April 17, 2014

Posted by dianika wardhani in Catatan Kecil.
Tags:
add a comment

Riuh rendah dan gegap gempita memang masih memayungi keberadaan media dalam kehidupan kita. Termasuk televisi. Semuanya (baca : stasiun televisi) berlomba meraih simpati konsumennya. Segala dan berbagai upaya dilakukan demi satu tujuan : memaku pemirsanya agar tak pindah channel. Titik!

 

Realitas televisi kita memang begitu. Dan faktanya, televisi belum sepenuhnya aman dan ramah kepada anak-anak kita. Mengikuti trend dan keinginan pasar adalah dalih mujarab untuk ‘menghalalkan’ segala bentuk acara. Padahal, pertanyaan berikutnya yang perlu diajukan adalah keinginan pasar mana yang ingin dijadikan imam dalam menentukan program dan format acara? Rasanya ini perlu ada warning bagi seluruh owner, pengelola media bahkan seluruh rakyat Indonesia bahwa masih ada masalah dengan televisi kita.

 

Teori marketing manapun pasti membenarkan bahwa segmen potensial yang dapat dijadikan sebagai target adalah perempuan (ibu) dan anak-anak. Jika anaknya sudah dapat dibujuk maka sang anak akan merengek kepada ibunya. Jika sang ibu memutuskan iya maka selesailah persoalan bagi produsen atau penyedia jasa. Itulah ajaran marketing paling purba yang rasanya masih tetap aktual sekaligus faktual dan layak dipercaya.

Akan tetapi, ajaran itu rasanya tak lantas diejawantahkan secara membabi buta. Bukan berarti melupakan aspek yang tak kalah penting yakni pendidikan dan pengajaran serta keteladanan. Berikut ini ada beberapa unsur yang seharusnya dianggap sebagai masalah bagi mereka yang masih peduli pada kelangsungan generasi penerus.

Pertama, sadisme. Unsur ini sering ada dalam berita, khususnya kriminal. Seharusnya dalam menyajikan hal-hal yang berbau sadisme, televisi memberikan efek blur untuk mengaburkan objek yang berlumuran darah dan sebagainya. Beberapa stasiun televisi konsisten melakukannya. Akan tetapi tidak sedikit stasiun televisi yang mengabaikan hal itu. Sadisme juga sering muncul di film-film. Bahkan terkadang muncul di film kartun yang notabene adalah milik anak-anak.

Kedua, eksploitasi. Perempuan dan eksploitasi dalam kehidupan media kita seperti dua sisi mata uang. Tak terpisahkan. Seharusnya memang bisa saling melengkapi dan menunjang. Kenyataannya, kehadiran perempuan sering dipaksakan dalam konteks tertentu. Sebut saja diantaranya dalam konteks iklan-iklan tertentu. Tak ada hubungan antara cat dengan perempuan. Terlebih jika perempuan tersebut harus mengenakan pakaian seksi. Ironisnya, banyak perempuan yang beranggapan bahwa hal itu sama sekali tidak merugikan. Tak sedikit juga yang memanfaatkan ceruk itu untuk mengeruk keuntungan materi.

 

Ketiga, pornografi. Unsur ini amat dominan pada iklan dan film-film. Tak hanya film produksi Barat. Sinema elektronik (sinetron) produksi dalam negeri kita juga ikut-ikutan tertular virus pornografi. Bahkan film kartun yang selama ini dianggap snack bagi anak-anak pun terjangkiti. Seorang tetangga bercerita bahwa kini ia tak lagi mengijinkan sang buah hati menonton sebuah film kartun. Ketika ditanya alasannya, serta merta ia menjawab bahwa ada sisi porno dalam film kartun tersebut. “Ada pornonya,” ujarnya sembari menjelaskan bahwa ada tokoh hewan yang mengenakan bikini.

Ketiga unsur tersebut sesungguhnya adalah persoalan klasik sekaligus aktual. Disebut klasik karena senantiasa disebut disaat memperbincangkan tentang persoalan perempuan dalam perspektif media massa. Aktual karena sampai saat ini, persoalan perempuan di media masih saja berkutat pada ketiga unsur tersebut.

Ironisnya, ketiga unsur itu sering muncul pada saat primetime. Pada waktu-waktu tersebut, anak-anak tentunya masih ada di depan televisi. Tak bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan mental mereka jika para orang tua tidak mendampingi dan menjadi pemandu saat memilah memilih acara televisi.

Saat ini tak perlu berdebat siapa yang seharusnya berperan mengatasi hal-hal tersebut. Peringatan Hari Perempuan Internasional tahun ini semoga dapat menjadi saat muhasabah bagi semua pihak. Amar yang diamanatkan melalui hasil Konferensi Beijing pada tanggal 4 – 15 September 1995 berupa Deklarasi Beijing dan 12 Landasan Aksi yang diantaranya adalah Perempuan dan Media Massa. Para delegasi negara yang saat itu hadir, termasuk Indonesia menyepakati seluruh landasan aksi tersebut. Dengan demikian, tak ada lagi alasan untuk tidak berpartisipasi aktif dan menyukseskan gerakan bercita-cita mulia itu. Gerakan bersama untuk mewujudkan generasi penerus yang lebih baik!