jump to navigation

Bahan Diskusi Menuju Zero Tolerance March 30, 2008

Posted by dianika wardhani in Buku.
trackback

“Saya berharap kehadiran buku ini mampu menjadi bahan diskusi bagi elemen bangsa,” kata Zuhairi Misrawi, penulis buku Al Quran Kitab Toleransi : Inklusivisme, Pluralisme dan Multikulturalisme dalam diskusi peluncurannya, di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina, Jakarta, Jumat malam (28/3).

 

Latar belakang ditulisnya buku tersebut menurut pemuda asal Madura tersebut rasa keprihatinan mendalam atas kondisi bangsa pasca reformasi. Betapa tidak, bangsa ini tengah meniti perjalanannya menuju zero tolerance (tidak ada toleransi, red). Hal tersebut dibuktikan dengan adanya rangkaian peristiwa minus toleransi. Kejadian terbaru adalah penyerangan atas jamaah Ahmadiyah.

 

Kondisi itulah yang selanjutnya makin menyempurnakan tekad Misrawi untuk membuat semacam tafsir Al Quran. Jadilah isi buku yang sebagian besar disusun di Kairo, Mesir, tersebut menyajikan ayat-ayat bermuatan sikap toleran beserta tafsirnya. Pesan-pesan untuk mengedepankan inklusivisme, pluralisme dan multikulturalisme.

Satu pertanyaan muncul kemudian yakni apa sesungguhnya yang dimaksud dengan istilah inklusivisme, pluralisme dan multikulturalisme. Ya, memang terkadang susah membedakan ketiga istilah tersebut.

Inklusivisme adalah mengakui adanya perbedaan, ada yang berbeda di sana. Hal itu ditunjukkan dalam Al Quran diantaranya dalam surat Al Maidah yang artinya adalah “..telah Kami turunkan Taurat sebagai cahaya…”

Penyebutan nama Isa sebanyak 34 kali dan Maryam sebanyak 8 kali menunjukkan betapa penghargaan atas perbedaan itu menjadi bagian dalam makna Al Quran.

Pluralisme adalah sikap yang menunjukkan pengakuan adanya perbedaan, tetapi di dalamnya terdapat kesamaan. Artinya adalah bahwa perbedaan agama tidak lantas serta merta menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan.

 

Multikulturalisme adalah menjadikan kelompok minoritas setara dengan kelompok mayoritas.

Tentunya hal itu menjadi semangat tersendiri, ibarat secercah embun di padang gersang saat mulai berkurangnya nilai toleransi.

Bagi Zuhairi, dalam ungkapan terima kasihnya, ideologi kembali ke Al Quran hanya menjadi slogan kosong. Ideologi itu tak memberikan alternatif pemikiran untuk mengambil hikmah dan mutiara yang terkandung dalam Al Quran. Setidaknya belum ada pembacaan yang serius terhadap AL Quran, khususnya dalam rangka menemukan nilai-nilai yang relevan dengan isu kekinian. Alih-alih ingin menjadikan AL Quran sebaga kitab toleransi, yang terjadi justru sebaliknya. Bagi sebagian gerakan keagamaan, AL Quran justru dijadikan energi bagi lahirnya pandagan intoleran dan ekslusif terhadap umat agama lain.

 

Tokoh muslim, Jalaluddin Rahmat, menyatakan betapa istimewa buku tersebut. Buku yang lahir pada saat tepat. Betapa hal yang harus disadari bersama adalah setiap agama memiliki aturan sendiri, kalau Allah menghendaki adanya beragam agama, maka itu tidak lebih dari upaya ujian bagi manusia. Tujuannya adalah fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Tentang adanya perbedaan agama, itu merupakan urusan Allah. Jadi apapun bentuknya, kita, manusia, tidak memiliki hak sedikitpun untuk menghakimi adanya perbedaan.

 

Satu pernyataan menarik dari Jalaluddin Rahmat. Ada pegertian orang Islam dan orang Mukmin. Pengertian tersebut layak jadi perenungan  bagi kita semua. Orang Islam adalah orang yang orang lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya. Sementara, orang mukmin adalah orang yang orang lain merasa tenteram saat berada di dekatnya.

Sudahkah kita seperti itu?

Al Quran menjadi pegangan amat tepat untuk melaksanakan itu semua.

 

Advertisements

Comments»

1. Jiwa Musik - March 30, 2008

hmmm… Pak Jalaludin Rahmat itu sekarang spesialisasinya apa ya? Dulu kala (sewaktu SMA) saya ngaji perbandingan agama ama beliau. Jadi saya maklum dg pernyataan2 beliau itu. Saat ini buanyak orang merasa tahu agama/keyakinan orang lain dan seolah2 orang lain tak ada bagus2nya sama sekali, tapi ketika ditanya ternyata gak tau apa2 krn sama sekali belum pernah mencoba mempelajari agama/keyakinan orang lain itu.

Lha kalo tau aja kagak… ya gimana bisa punya toleransi?? Apakah toleransi ini hidayah ato kodrat dari sononya yg tak bisa dipelajari, dilatih ato diubah kah?

2. dkmfahutan - May 1, 2009

“Satu pernyataan menarik dari Jalaluddin Rahmat. Ada pegertian orang Islam dan orang Mukmin. Pengertian tersebut layak jadi perenungan bagi kita semua. Orang Islam adalah orang yang orang lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya. Sementara, orang mukmin adalah orang yang orang lain merasa tenteram saat berada di dekatnya.”

tapi gak semua orang yang orang lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya dan orang yang orang lain merasa tenteram saat berada di dekatnya bisa dikatakan sebagai orang islam dan orang mukmin. karena syarat utamanya adalah tauhid kepada Allah SWT, meyakini dengan sebenar-benarnya keyakinan (hati, perkataan, perbuatan) bawah tiada ilah selain Allah dan muhammad saw adalah rasul NYA.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: