jump to navigation

Terima Kasih, Merah Putih! July 19, 2007

Posted by dianika wardhani in Berita.
trackback

Itulah kalimat tepat untuk merangkum berita utama di beberapa media yang saya baca hari ini. Semua bangga meski sisi lain mesti kecewa karena langkah tim Garuda  terhenti oleh Korea Selatan. Semua salut pada perjuangan sebelas orang bersama sang kapten, Ponaryo Astaman. Tentunya Ponarya senang dan lega diijinkan main usai terpaksa absen saat Indonesia melawan Arab Saudi. Maklum, kapten didera cedera jadi harus istirahat.

 

Awalnya saya berkeinginan untuk menyaksikan langsung di Gelora Bung Karno. Tapi tiket habis. Semua ludes, pasrah. Begitu SMS dari rekan saya, Wahyu, yang nguber tiket. Ya sudahlah, bisa kok nonton di rumah atau di kantor, lewat televisi.

 

Pukul 14.00 WIB, lewat sedikit. Seorang rekan sekantor saya sudah mengemas. Ia mau ke Senayan. Saya dan beberapa teman masih di kantor hingga maghrib. Lewat maghrib seorang rekan menanyakan,”Kamu nggak nonton bola?”

Saya menggeleng karena rasanya nggak tega. Tetapi didera rasa penasaran, sejauh ini hanya mengetahui laporan tentang progress dahsyat tim Merah Putih dari media, akhirnya diputuskan untuk nonton.

 

Televisi menyala. Sudah memasuki babak kedua, berjalan lima menit. Aksi mendebarkan. Beruntung banget tim memiliki kiper sehebat Markus. Pemuda bernama lengkap Markus Horison itu luar biasa nekad. Kami dan saya rasa semua dibuat geregetan dengan kenekadannya menyongsong lawan guna menghalau bola. Keputusan yang tepat karena memang membahayakan. Duuh, Markus. Siapa nggak deg-degan melihatnya dengan cuek berlari hampir ke tengah lapangan. Saya kira supporter yang ada di Senayan pasti teriak-teriak memperingatkannya.

 

Saya kira semua sepakat kalau memang kiper berpostur tinggi itu layak menjadi bintang. Terhitung lima kali ia menyelamatkan gawang kita. Ivan Kolev tepat memilih pemuda berusia 26 tahun asal PSMS Medan itu untuk menjadi penjaga gawang di laga hidup mati sore kemarin.  

 

Saya kira kalau Anda sempat membaca Tempo hari ini, Anda pasti sepakat dengan tulisan bertajuk Cantik karya Raju Febrian, wartawan Tempo.  Saya terus terang sepakat. Saya sepakat. Kita selama ini lebih tahu debut aktor-aktor sepakbola kelas dunia. Kaka, Gatusso, Fabio Capello, Carlos. Tak cuma kepiawaian mereka dalam merumput. Kita paham betul dengan beragam gosip yang menyertai langkah mereka. Saat ngomong tentang sepakbola Indonesia, sekali lagi saya sepakat saat Raju mengatakan paling juga kalah. Tetapi memang sungguh cantik permainan tim kita kali ini. Kalau meminjam istilah Raju ibarat perempuan matang yang menanti lamara jejaka tampan menuju pelaminan.

 

Yah memang kita kalah postur. Dan itu dimanfaatkan oleh Korea untuk bermain bola-bola atas. Apapun, kita layak memberikan penghargaan buat tim Merah Putih. Bolehlah kita berkata bahwa ini awal kebangkitan sepak bola Indonesia untuk mulai debutnya menjadi tim layak diperhitungkan.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: