jump to navigation

Seharusnya Kuanggap Engkau Kekasihku June 14, 2007

Posted by dianika wardhani in Catatan Kecil, Curhat, Harapan.
trackback

Ada satu sajak menarik yang dikirimkan rekan saya kepada saya. Sajak karya Wahyu Sulaiman Rendra yang kapan hari bertemu dengan saya. Kapan hari, tepatnya 17 April lalu. Kaget juga sih karena itu di luar dugaan saya. So nice ^_^ bertemu dengan orang yang memang saya harapkan. Saya bercerita banyak tentang skripsi saya berjudul Kajian Semiotik Kumpulan Puisi Mencari Bapa Karya WS Rendra.
Seringkali aku berkata, ketika orang memuji milikku bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipanNya,
bahwa rumahku hanyalah titipanNya,
bahwa hartaku hanyalah titipanNya,
bahwa putraku hanyalah titipanNya,
Tetapi,
Mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
Ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
Kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian,
Kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah sebuah derita.

Ketika aku berdo’a,
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
Dan kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan, seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku,
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknya darita menjauh dariku,
Dan nikmat darita kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
Dan bukanlah kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan,
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…..

“Ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja”
Adalah anugrah”

WS Rendra

Sayang banget sajak itu kurang judulnya. Kali ada yang bisa bantu judulnya apa…
Seharusnya memang demikian. Saatnya kita merenunginya. Bahwa semua yang ada itu sesuai dengan kehendak-Nya. Bahwa yang ada dan semua yang buat kita adalah sesuai kebutuhan kita.

Kita ini minta seolah2 kita yang paling paham dengan kebutuhan kita. Padahal, seringkali apa yang kita anggap kebutuhan itu tidak lebih dari alunan emosi sesaat yang bisa jadi kita menyesal sesudahnya, bahkan hanya beberapa saat kemudian.

Memang deh, seharusnya kita enjoy, senang berbincang dengan-Nya setiap saat, sama halnya betapa girangnya kita saat berbagi cerita dengan kekasih kita. Seharusnya memang demikian. Seperti kalimat kakak kelas saya, Mahbub Junaidi, bahwa kepada-Nya kita nggak mungkin bohong. Karena tak ada satupun yang bisa kita sembunyikan dari-Nya.

Yah… Jauh di lubuk hatiku…

Advertisements

Comments»

1. arul - June 14, 2007

keren banget puisinya.. šŸ™‚


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: