jump to navigation

Menyusuri Victory Point Kaki Lima Kota Bangkok April 18, 2007

Posted by dianika wardhani in Berita, Curhat.
trackback

Bangkok bukan cuma Pattaya. Ada sisi lain Bangkok yang memikat untuk dibawa pulang ke Indonesia. Victory Point salah satunya. Berikut catatan perjalanan malam penulis di sela mengikuti acara Youth Coordination Center International (YCCI) yang digelar Asian Resource Foundation (ARF) Bangkok, Thailand, 25-30 Maret 2007.

UKUL sepuluh malam waktu setempat. Waktu yang sama dengan Kota Surabaya. Sama juga situasinya. Pukul sepuluh malam belum terlalu larut bagi Bangkok untuk surut. Mata pusat kota Bangkok, Victory Monument justru tengah berbinar.

Lalu-lalang manusia dengan aktivitas penuh. Dari sekadar jalan-jalan menikmati malam hingga mencicipi ragam penganan atau memborong cinderamata khas Thailand. Ada yang sekadar duduk di sekitar monumen kebanggaan Kota Bangkok. Dengan semua kesibukan itu, dijamin Anda tak bakal kesepian di Victory Monument.

Sesekali kilatan cahaya membias di sekitarnya. Ah…ada yang berpose rupanya, mengabadikan Victory Monument. Sama halnya kami berempat. Bercanda sembari membasahi tenggorokan dengan minuman ringan. Maklum, udara malam Bangkok tak kalah garangnya dengan Surabaya.
Mumpung di sekitar Victory Monument, saya menyempatkan menyinggahi Victory Point. Tempat yang mungkin kelewat biasa bagi pendatang. Maklum, siapa pun yang mengunjungi Bangkok pasti ingin segera masuk Pattaya yang kelewat mashyur dengan Tiger Show, atraksi seks ala Pattaya.

Kembali ke Victory Point, salah satu kawasan emperan Kota Bangkok tempat mangkal pedagang kaki lima. Mengapa Victory Point istimewa? Bisa jadi karena namanya sengaja disamakan dengan nama monumen kebanggaan kota Bangkok. Apa yang bisa ditemukan di sini? Tempat ini sangat strategis.

Artinya mudah dijangkau. Hanya satu jam dari Suvarnabhumi International Airport. Jika menggunakan taksi cukup mengganti ongkos sekitar 300 Baht, dengan kurs satu Baht Rp 3.000.

Victory Point salah satu sentra pedagang kaki lima di Bangkok. Jangan membayangkan sentra pedagang kaki lima ini memiliki pemandangan kumuh, tak teratur, semrawut, kotor dan sebagainya. Antara lapak satu dengan lapak lain memang berdempetan, namun jauh dari semrawut. Semuanya baik-baik saja.  Tak heran Victory Point menjadi surga bagi pemburu suvenir.

palagi harganya dijamin miring. T-shirt standar harganya 100 Baht. Dompet dan tas yang manis desainnya dibanderol 70 Baht – 80 Baht. Ada juga kalung manik-manik, jepit rambut, dihargai 100 Baht untuk tiga buah. Anda bebas memilih kok. Jika Anda jago menawar, sangat mungkin mendapat harga lebih miring lagi. Sayang, pedagang di sini jarang yang mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Mereka lebih enjoy berbahasa Thai.

Ide kreatif seorang pedagang di Victory Point patut ditiru. Ia menyimpan kamus bahasa Inggris di bawah meja tempat barang dagangannya terhampar. Saat saya menanyakan aksesori kulkas, ia terlihat bingung lalu mengambil kamus dan meminta saya menunjukkan kata dimaksud. Saya pun menunjuk kata refrigerator. Ternyata ia tidak memiliki barang yang saya maksud. Sambil tersenyum tulus, ia meminta maaf bahwa barang yang saya cari tak dimilikinya.

Lelah berputar-putar dan cuci mata, perut mulai menuntut perhatian. Boleh juga membeli makanan di sini. Asal tidak mencari makanan berat. Sejauh pengetahuan saya, tidak ada kedai atau penjual makanan berat semacam nasi. Atau saya kurang teliti mengamati? Entahlah. Tapi jangan khawatir, ada juga kok makanan instan. Makanan instan di Bangkok tentu bukan mie instan seperti di Indonesia. Tetapi makanan lengkap berupa nasi plus sayur, plus lauk. Harganya pun terjangkau, berkisar 60 Baht hingga 80 Baht.

Ah perut sudah tak lagi menjerit, saatnya berpaling ke tuk tuk. Ini bukan nama makanan. Tapi transportasi lokal Bangkok. Sejenis bajaj dengan body lebih terbuka dibanding bajaj Indonesia. Transportasi murah dan cepat. Saking cepatnya, disarankan tidak melepas pegangan saat tuk tuk mengebut di jalanan Kota Bangkok. Kecuali jika Anda berotot kawat, bertulang besi sehingga cukup kuat terpental keluar dari tuk tuk si jago ngebut.

Dengan 75 Baht, tuk tuk akan membawa Anda menuju Sanamlaung (baca: Sanamluang). Sebuah kawasan yang lekat dengan sejarah Thailand. Dulunya -terang Sister Maiy- teman perjalanan malam itu, di sinilah tempat orang menggelar demonstrasi besar-besaran. Ribuan orang berdatangan dari penjuru Thailand bergabung menjadi kekuatan dahsyat menjatuhkan rezim yang berkuasa saat itu.

Sanam berarti lapangan, laung berarti king atau raja. Bahasa lugas Sanamlaung berarti semua untuk raja. Sanamlaung, tak jauh dari Grand Palace atau Istana Raja. Siang hari di Sanamlaung, jika beruntung, ratusan merpati memenuhi taman yang berada tak jauh dari lapangan tersebut.

Coba saja sodorkan tangan berisi jagung, sontak mereka berlomba mengerubuti tangan tanpa takut sedikitpun. Sayang, tempat itu kini menjadi homebase para homeless atau tunawisma. Tenda-tenda bertebaran, riuh rendah suara terdengar dari dalamnya. Entah apa aktivitas di dalam tenda. Kami hanya mengamati dari jauh.

Satu hal lagi, di tempat ini khususnya di taman, banyak anjing berkeliaran. Jadi hati-hati bagi yang takut anjing. Kadang tanpa suara, tiba-tiba saja, mereka sudah mengendus tepat di belakang kita. Tenang, mereka tidak menggigit kok meski tubuh anjing Bangkok agak besar dibanding anjing Indonesia. n

Sarapan Khou Tom
WARGA Thailand adalah masyarakat penggemar seafood. Segala macam ikan dan binatang laut hadir sebagai pelengkap atau menu utama makanan. Salmon, udang, kepiting dan cumi gampang dicari di Thailand. Tinggal memilih yang segar atau instan. Khou Tom, menjadi menu sarapan wajib di pagi hari. Jika Anda menginap di Thailand, sangat dipastikan akan mendapat kesempatan mencicipi Khou Tom.
Khou Tom berupa nasi halus mirip bubur. Berkuah dengan campuran daging ayam (kadang disertai kaldunya), sedikit cumi-cumi, kepiting dan udang. Bumbunya mirip kecap asin. Ada bubuk koya (nama yang sama untuk bubuk pelengkap soto di Surabaya). Masih ada cabai Thailand yang anehnya tidak pedas sama sekali!
Cara penyajian Khou Tom bisa berbeda sesuai selera yang meraciknya. Nasi halus mirip bubur dicampur daging kepiting, cumi atau udang yang ditempatkan di panci besar. Ada saus kecap, irisan daun bawang, seledri dan bubuk koya, masing-masing diletakkan di wadah berbeda. Komposisi campurannya terserah Anda, karena sesuai selera. Kalau saya, suka lebih menambah koya dan saus kecap banyak-banyak. Entah apa namanya, susah sekali melafalkannya dalam Bahasa Thai. Yang pasti, usai aduk sana, aduk sini, seperti pada gambar inilah Khou Tom racikan saya. Nah! n

Memori Demokrasi di Tanah Siam

TUGU bersahaja di tengah Kota Bangkok dengan ikon yang menancap anggun di atasnya. The Democracy Memorial. Kondisinya jauh lebih baik dibanding Tugu Pahlawan Surabaya yang kusam. The Democracy Memorial terlihat gagah sekaligus bersahaja di jantung Kota Bangkok. Diapit dua bilah bangunan mirip gading gajah makin melengkapi kebersahajaan Kota Bangkok. Di puncaknya tertanam ikon Constitution Law.

Menurut Sister Maiy, tugu dibangun untuk mengenang tonggak dimulainya perjalanan demokrasi di Thailand. Periode terpenting dalam sejarah Thailand. Peristiwa penting bagi Tanah Siam, menandai peralihan tampuk kekuasaan menuju kejayaan demokrasi sejati melalui revolusi dan dukungan pasukan elit.  Peralihan kekuasaan yang mengantar King Bhumibol Adulyadej atau King Rama IX memegang kendali negeri di Teluk Siam tahun 1946 dan masih berjaya hingga detik ini.

Advertisements

Comments»

1. mamuk ismuntoro - April 27, 2007

hmmm, lovely bangkok…
oke jg laporan perjalanannya neh.

2. dianika - April 27, 2007

deuuh segitunya, Kak
Makaciih banget deh ya
Tapi whatever, Bangkok memberikan pembelajaran baru buat saya, terkait … hemmm, begini rasanya intercultural ya.. 😀

3. dian - October 24, 2007

oleh oleh cindera mata dari thailand apa ya yang bagus ? kasih tau dong..email.me wishing_freedom@hotmail.com

4. ROnie - March 10, 2008

woii yang hobi ayam bangkok hubungi gue
kita berbagi cerita.
fs gue nie r0ni_virus@yahoo.com
dan aku memakai fs istriku


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: