jump to navigation

Cinta Sang Matahari March 21, 2007

Posted by dianika wardhani in Cerpen.
trackback

JARUM jam dinding di kamarku hampir menyentuh angka tiga. Kantuk tak juga menghampiriku. Beberapa jam lalu, aku bertemu dengan Tyas, sahabatku saat menjadi jurnalis dulu. Ia memang bertugas di Malang, tetapi sengaja menemuiku. Kaget juga saat aku menerima pesan singkatnya. Kutunggu kau di mabes. Aku nyampe sana ba’da Isya, insya Allah.

Mabes adalah tempat kami biasa berkumpul. Dulu, kami berlima di saat-saat tertentu. Aku, Tyas, Retno, Budi dan Renville. Lintas profesi justru menjadi perekat persahabatan kami. Setiap bertemu, kami berbagi cerita, bertukar tawa, mengurai duka tentang profesi masing-masing. Yah, beragam cerita karena memang kami berada dalam latar belakang profesi yang berbeda. Hanya Tyas dan aku yang sama. Sesama jurnalis akan tetapi berada di perusahaan media berbeda. Retno manajer Humas sebuah perguruan tinggi papan atas di Surabaya. Renville, hmm, siapa tak kenal ia. Pengacara tangguh di jagat peradilan Surabaya. Sementara Budi menduduki jabatan Marketing Assistant Manager di sebuah perusahaan bergengsi di Surabaya.  Hingga kemudian kami terpisahkan. Tyas, dipindahkan ke Malang. Renville makin sibuk. Lalu Budi dipercaya menjadi Area Manager di Kediri dengan coverage area Malang, Jombang, Kediri, dan Nganjuk. Aku memilih resign dari jurnalis dan di perusahaan tempatku kini berkarya aku dipercaya memimpin redaksi untuk media. Kami makin jarang bertemu. Meski sesekali masih kontak.

Hingga kemudian sesuatu menghancurkan harapanku. Rasanya tak sanggup lagi. Tak ada yang lagi bisa kupertahankan di Surabaya ini. Maafkan. Akhirnya aku memilih pergi, Tyas. Begitu pesan singkatku pada Tyas di ujung siang hari tadi. Tak ada balasan. Mungkin Tyas sedang wawancara atau tengah menulis feature. Bukankah itu kebiasaannya hingga tak terganggu oleh apapun. Tetapi jelang Maghrib, ada pesan singkat darinya.

Lepas Isya aku menuju Mabes. Tyas telah ada di dalam. Kulihat ia sendirian saja. Entah Retno kemana. Biasanya ia ada di situ. Lebih gampang ditemui di situ daripada di ruang Humas di kantornya.

          “Apa kabarmu, Yas?”

          Tyas tersenyum dan mengucap terima kasih pada waitress yang mengantarkan pesananku.

          “Duduklah. Kabarku baik.”

          “Kenapa kau ke Surabaya, Yas? Bukannya besok, kamu harus kerja?”

          Tyas tersenyum sekilas. Ia tahu betul bahwa yang kukatakan tak ada bedanya dengan istilah basa basi.

          “Kau tahu kan, Fi, kenapa aku ke sini. Aku hanya ingin menemuimu. Meminta penjelasan atas sms yang kau kirim padaku siang tadi. Oke kalo kamu ingin kujawab pertanyaanmu. Aku baik-baik. Begitu pula kerjaanku. Apa sih susahnya. Kalau jurnalis baik-baik tuh memang susah. Tetapi tenang sajalah, kau tak perlu marah padaku. Aku punya simpenan berita kok. Murni hasil investigasi. Kujamin koranku akan leading. Cukup kan? Oke, sekarang kuminta penjelasanmu. Kenapa begitu?”

          Aku menghela napas panjang. Kulemparkan pandangan ke luar café. Lalu lintas masih padat. Belum genap pukul delapan malam. Masih kelewat dini bagi Surabaya untuk menutup matanya.

          “Malah diam.. Aku nggak habis mikir, Fi. Mana Arfi yang kukenal sebelumnya. Kenapa kau tiba-tiba patah begini? Nggak bisa dikomunikasikankah? Sebegitu ruwetnya? Kau kan pengagung sharing sesama kawan kan. Tetapi kenapa Begawan sharing dan pengagung persahabatan itu kini luluh tanpa daya? Berbagilah, Fi….”

          Aku belum membuka suara. Sosok yang kini ada di hadapanku itu kelewat susah terbantah. Aku mengenalnya memang belum genap tiga tahun. Tapi ia sudah mengenalku. Kami saling mengenal satu sama lain. Dikenal kompak di kalangan jurnalis Surabaya. Arfi dan Tyas.

          Aku belum mampu mengawali pembicaraan. Terlampau susah. Kuambil gelas hot chocolate sekadar untuk pembasuh kerongkongan. Tyas menatapku lekat-lekat. Tangannya terulur kepadaku. Disentuhnya perlahan tanganku.

          “Fi, ada apa denganmu?”

          Lembut suaranya meluluhkan pertahananku. Aku terisak perlahan.

          “Boleh aku menangis, Yas?”

          Tyas mengangguk.

          “Menangislah, Fi. Lepaskan bebanmu. Nggak ada yang melarangmu. Menangislah…”

          Tak berapa lama usai Tyas mengatakan hal itu. Tangisku meledak. Pertahananku jebol. Bahuku terguncang. Tyas membiarkannya. Beberapa menit kemudian tangisku reda.

“Sudah nangisnya? Mumpung nggak ada Budi di sini. Ia kan yang selalu merasa aneh jika melihat kita, apalagi kamu, menangis. Dikiranya kita nggak bisa nangis. Nggak pantes katanya kan.”

Seloroh Tyas membuatku sedikit tersenyum. Lalu tanpa henti, aku bercerita tentang hal yang meresahkanku. Tentang faktor yang mendukung hingga kemudian aku memutuskan sesuatu.

“Lalu kamu memilih pergi?”

Suara Tyas seolah menggantung di udara. Aku terdiam.  Keterdiaman kami luruh bersama deru lalu lintas Surabaya di sekeliling kami.

“Mungkin. Aku nggak ingin terus-terusan menangis dalam situasi yang kukira nggak wajar. Di luar batas kewajaran. Paling luar malahan”

“Tetapi tidak dengan meninggalkannya kan. Bukankah impianmu baru saja dimulai? Dulu, kau bercita-cita mengelola media. Lalu kau menjadikannya keyakinan. Sejak kecil. Kau konsisten untuk mengikuti alur menuju terwujudnya impian itu. Banyak hal dan halangan yang mengikuti langkahmu. Kau nggak mundur.”

Aku masih diam.

“Kini, Fi, semuanya hampir jelas. Semuanya hampir di tangan. Lantas kamu akan memilih pergi. Jangan jadi pecundang bagi diri sendiri begitu…”

“Aku bahkan tidak tahu apa yang mesti kukerjakan. Aku mundur dari pekerjaanku. Aku pergi dari Surabaya. Lalu aku akan mulai kehidupanku yang baru. Di tempat lain, Yas. Di tempat yang orang lain belum kenal siapa itu Arfi.”

”Itu berarti kamu akan memulainya dari awal. Kau akan menghapus relasi-relasi yang telah terjalin.”

Aku mengangguk. Perlahan. Air mata kembali turun dari lembah mataku. Tak mampu lagi kutahan.

Tyas merangkul bahuku. Segera saja tangisku kembali pecah. Bahuku terguncang.

          “Setahuku, sampai hari ini kamu itu perempuan hebat sekaligus kuat yang pernah kukenal. Tak pernah mundur. Sekeras apapun halangan dan tekanan. Kamu akan melawannya. Itu artinya kamu kuat. Menangis itu wajar. Siapapun yang terkena tekanan pasti akan mengekspresikan emosinya dengan caranya sendiri. Dan itu biasa..”

          Suara Tyas tertata kuat. Ia menatapku lekat-lekat. Aku tahu artinya. Aku paham makna pandangan itu. Pandangan yang penuh kasih sayang.

          “Fi, yang tidak biasa adalah kalau menangis dan sadar sampai kapan akan menangis dan kapan akan kembali tertawa. itu yang namanya orang kuat. Dan itulah yang selama ini kuteladani darimu. Kamu selalu optimistis akan tiba waktunya kamu sembuh. Dengan kamu yakin kalo itu soal waktu, artinya kamu sudah menyadari dan bisa memperkirakan sampai kapan sakit itu akan berlangsung. Kalo sudah begitu jelaslah harapan sembuh di depan mata. Jarang orang sakit punya bayangan sembuh sedekat dan sejelas kamu.”

          Aku masih belum menyahut.

          “Sampai kemudian ada seseorang mengulurkan tangannya padamu. Kau bercerita kepadaku ia adalah teman masa kecil. Teman main kelereng, begitu kan istilahmu. Semestinya kamu bahagia, Fi. Hidupmu hampir sempurna. Cita-cita ada di depan mata, pasangan jiwa ada di sebelah raga. Ia datang tepat pada waktunya. Saat jiwamu ingin berlabuh. Apa yang kau cari lagi?”

          Aku menghela napas panjang.

“Tadi sore Masku sms, masih bilang kalo kangen. Ia bilang sibuk hingga beberapa hari ke depan. Ia minta doaku agar ia bisa melewati semuanya dengan sukses. Kujawab tentu aku akan selalu mendoakanmu. Tetapi apa sibuk banget itu berarti kita nggak bisa – nggak boleh – untuk menghubungi satu sama lain. Setelah itu aku tertidur, lelah luar biasa… jam setengah 12 an aku lihat ada sms darinya… Begini bunyinya, ya kalo jarang iya. Maaf saya harus btl dek, aku mohon kamu ngerti posisiku, slm.”

Tyas menatapku begitu rupa. Ia memahami posisiku. Aku melanjutkan ceritaku. Aku merasa itu kalimat yang aneh. .. tapi aku terpukul sekali, Ya. Aku nggak mungkin menghubunginya. Aku yakin itu. Apa yang terjadi ? Aku belum tahu sesungguhnya. Aku tidak ngerti. Mungkin ada hal yang membuatnya demikian terpukul. Entah apa. Aku ingat betapa matanya berpijar saat memandangku, tanda betapa ia menyayangi aku. Aku selalu menangkap senyum manis terukir di bibirnya setiap kali memandangku. Aku tahu makna senyum itu. Ia mencintai aku. Aku juga merasakan betapa ia membutuhkan demikian pula sedemikian butuhnya aku bersandar di bahunya. Ia tak keberatan mengajariku tiap detik bagaimana menyayangi seseorang. Ia tahu aku sempat terpuruk. Ia tahu bahwa aku mesti tertatih, belajar menyayangi seseorang. Aku ingin belajar. Tentu dengan mendendangkan harapan pada setiap langkah.

“Tetapi, Yas, kembali lagi. Ternyata harapan itu yang kembali menghancurkanku. Aku lelah, Yas. Aku lelah sekali.”

“Tetapi, Fi… Bukan lantas keluar kerja. Bukan dengan meninggalkan semuanya kan ya… ”

Perkataan Tyas menggantung di udara. Aku tak lagi mendengarnya. Kulanjutkan perkataanku.

“Ya, Yas, aku akan keluar kerja. Seterusnya. Pergi dari perusahaan ini. Terlalu rumit persoalan yang kuhadapi. Pergi dari Surabaya. Mungkin esok aku akan pamit ke Direktur Eksekutif perusahaanku. Sekuat tenaga aku akan deal-kan proyek. Dibantu dengan rekan kerjaku tentunya. Aku ingin menebus semuanya.”

          Tyas menghela napas lalu menghempaskannya kuat-kuat.

“Yah, Yas. Akhir minggu ini, aku akan pergi dari Surabaya. Ganti nomor ponsel. Aku akan melupakan semuanya. Aku akan memulai kehidupan yang baru. Jauh di sana. Di tempat yang tidak ada yang mengenalku. Berat memang tanpa ia di sampingku, Tetapi aku harus bisa. Sama dengan saat aku memasuki Surabaya empat tahun lalu.”

Pecundang yah, Yas. Biarlah. Semua orang yang mengenalku bisa dipastikan tak akan habis pikir dengan apa yang kuputuskan. Engkau juga mungkin. Biarlah. Aku kalah kali ini. Kalau ada yang bilang aku tak kenal kalah, mungkin saat ini ia kecewa. Kecewa dengan keputusan yang kuambil. Sahabatku, Ady, juga mungkin tak putus mengerti. Baru kemarin kami ngobrol, dan ia yakin bahwa aku tidak akan escape – melarikan diri – karena segala sesuatu itu merupakan cobaan yang masih dalam rentang kemampuan.

“Yah, Yas. Aku yakin suatu ketika perusahaan itu akan menjadi besar. Aku akan  melihatnya dari jauh. Aku sangat berharap komitmen teman-teman akan selalu menjaga itu ya. Hingga bisa mengawal dan mendukung perusahaan sampai mencapai saat itu. Aku akan melihatnya dari jauh. Seyogyanya aku berterima kasih pada mereka semuanya.”

Tyas menghela napas. Ia sudah kehabisan kata untuk menghalangi kepergianku. Hingga kemudian ia memilih diam. Hingga kemudian kami berpisah.

“Ya sudahlah kalau kemudian itu yang kamu pilih. Aku tahu kamu paham yang terbaik buatmu sendiri. Pergilah, Fi. Yang jelas aku berpikir bahwa seyogyanya ia bersyukur memilikimu. Bukan malah menyia-nyiakanmu.”

Aku menghela napas panjang. Mengingat perkataanku Tyas padaku. Jarum jam dinding menunjuk pada angka enam. Pukul enam lewat sedikit. Genap semalam aku tak tidur. Entah kenapa aku lega hari ini. Aku tetap matahari yang selalu akan menyimpan cintanya buat sangn bintang. Sampai kapan pun itu. Aku juga tidak akan menyesal melakukannya. Menjaga cinta itu. Biarlah. Satu saat aku yakin ia akan menyadari betapa sayang aku padanya. Kuambil ponselku. Kukirim pesan untuk Tyas.

Allah menunjukkan jalan ini. Entah sebesar juga seindah anugerah yang tengah dipersiapkan-Nya padaku hingga aku didera seperti ini. Pastinya ada anugerah terindah setelah ini. Doakan ya, Tyas.

          Message sent.

 

Surabaya, 21 Maret 2007

Advertisements

Comments»

1. ewepe - March 22, 2007

Hold on!
Dia tidak pernah tidur kok…

2. kakilangit - March 23, 2007

Mengharukan, but inspiring 😀

3. ekonik3 - March 28, 2007

hallo dian!
MERDEKA!!!!!!!!!!!

4. ummiah - April 11, 2007

buatlah citer yg best-best sikit…buatlah cite dari sinetron RCTI iaitu Bintang…lagi best!!!

5. ghufronyoyok - December 21, 2007

siipppppppppppp

6. Titin - May 10, 2008

lagi2 ceritta ini menceritakan tentangku,,yang prg karn tidak sanggup dgn semua,,karna harapn jualah yang menjatuhkan aku & sekrng aku berada diantara org yang tak ada satupn mengenalku, aku pergi dn meninggalkan pekrjaanku n semua. aku ingin membuka lembr baruku ditanah rantau….berharap sautu saat nanti ada mentr yg menyinari relung hatiku yang semakin sp n kelabu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: