jump to navigation

Makna Sebuah Perjalanan January 29, 2007

Posted by dianika wardhani in Catatan Kecil, Curhat, Harapan.
trackback

Sepanjang minggu kemarin saya benar2 merasa penat. Luar biasa. Sampe kemudian saya memutuskan untuk recharge my self, keluar sementara dari aktivitas. Saya memutuskan ke Jember. Tadinya ada undangan training di sana. Akan tetapi batal karena ditunda. Saya pun memutuskan untuk nggak jadi berangkat. Terlebih Jumat (25/1) pagi, saya terkena demam. Jadilah kemudian saya putuskan nggak jadi berangkat. Ternyata tugas benar2 membuat saya jatuh kepayahan. Akhirnya lepas Isya saya putuskan untuk berangkat. Impulsif, mungkin. Tetapi…saya bener2 butuh recharge…

Perjalanan menuju kota Jember. Pukul 1 lewat. Hampir setengah dua dini hari saya masuk terminal Tawang Alun. Tak ada takut yang merayapi saya meski saya  menjadi sosok perempuan sendirian di jelang subuh itu. Saya masih merasa kelewat familiar dengan
kota itu….

Ketemu dengan Sahabat saya, Dewi. Ia orang yang hebat. Kini menjadi mahasiswa pascasarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dulu, kami sering bersama2. Di kampus, di berbagai organisasi, berbagai pelatihan. Kami bertukar cerita. Tak ada yang berubah dari dirinya. Masih rame. Masih penuh semangat. Masih suka nyeletuk. Cuma ia iri dengan saya katanya. Heh, iri apa coba… katanya saya berada di komunitas yang tepat.
Yap!! Di tempat saya yang sekarang ini saya mendapat tempat yang nyaris tanpa batas buat kreativitas… Di sini cita-cita, saya sandarkan…
Banyak cerita yang saya dengar. Si E lepas kerudung dan seorang teman lagi. Cerita Dewi ini membuat saya terkaget2. Kok bisa? Tetapi itulah..sebuah pilihan…  pilihan untuk jalan hidup..   Lepas Dzuhur, saya meninggalkan Jember. Kelewat singkat. Saya nggak sempat berkunjung ke dosen terdekat saya, Bu Titik Maslikatin. Nggak kebayang beliau pasti duka (marah, red) mendengar saya ke Jember, dan tidak sempat menemuinya. Maafkan saya, Bu. Lain kali insy Allah saya singgah.

Naik bis Akas. Saya hitung. Hanya ada empat orang keluar dari Terminal Tawangalun Jember. Tetapi saya lihat senyum tanpa beban dari sopir atau kondekturnya. Seadanya saja dibawa. Hmm saya salut dengan mereka. Berbeda dengan bis sebelah yang melaju kecepatan tinggi… Perjalanan toh pasti akan selesai baik kalau kita jalani dengan sembrono maupun sabar plus istiqomah…

Sampe Surabaya, saya menghadiri undangan dimulainya perjalanan baru bagi putra relasi saya. Minggu juga. Senang ya bisa meniti perjalanan masa depan dengan orang yang dekat dengan kita… orang yang disayang.. Malam tadi saya berkesempatan untuk merehatkan pikiran. Nonton film, Man About Town, Ben Afflect. Duh gantengnya..eh keren…
Ada banyak hikmah yang saya ambil darisana. Tulisan khusus tentang film itu ada di sini.

Yang paling penting, dalam film itu saya diperlihatkan sebuah pembelajaran, betapa penting sebuah konsisten dan istiqomah. Bahwa.. dalam setiap perjalanan itu ada jalan yang harus ditempuh. Dan sepanjang perjalanan itu kita tidak boleh melihat segala sesuatu secara parsial, secara sepintas. Kita harus arif melihatnya secara keseluruhan. Dalam sebuah perjalanan kehidupan, kita hanya diijinkan untuk berencana, tetapi tentang fase-fase sesungguhnya yang bernama batas kehidupan tetap harus kita lewati… dengan kesungguhan hati tentunya…  Sambil dengan penuh keyakinan, kita harus berkata pada diri sendiri, Aku tidak pernah takut, aku harus selalu siap untuk meledak, waktu tepat untuk disorot lampu, memandu kita menuju tempat tertinggi saat tercapainya cita – cita ….. 


 

Advertisements

Comments»

1. kakilangit - January 29, 2007

ini insyaAllah aku juga bakal memulai sebuah perjalanan. mo KP (kerja praktek). heheh..mudah2an banyak mendapat pembelajaran.

eh btw mbak, accountku di halaman satu apa ya? aku lupa. seingetku pernah dafatr dulu. tapi pas aku coba semua account yang fmiliar+passwordnya kok gak masuk. heheh..yang ini japri aja mbak.

2. Malik - January 30, 2007

saya sependapat dengan itu, bahwa kita harus Istiqomah. kata guru madrasahku dulu Al-Istiqomatu ainul Karamah, menekuni k\sebuah kebaikan akan berbuah keberhasilan.
din, aku ga tau dibagian yang mana dari tulisan itu yang tidak progressif. tapi yang aku lihat dari seluruh tulisan itu menyiratkan sebuah kepasrahan yang berlebihan. Tulisan itu memposisikan manusi hanya sebagai yang berusaha. bagi aku Tuhan tidak senaif itu. kita sebagai manusia turut memilik hidup ini. Tuhan merekayasa hidup ini bersama-sama kita makhluknya. bahwa tuhan maha merekayasa itu benar, tapi manusi juga punya porsi dalam memberi warna hidup ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: