jump to navigation

Ketika Warga Menjadi Pewarta January 4, 2007

Posted by dianika wardhani in Berita, Catatan Kecil, Harapan.
trackback

Ada sistem jurnalistik baru yang kini ada, dan mewarnai di jagat media maya di
Indonesia dengan melibatkan warga. Istilahnya warga menjadi pewarta, seperti kata Mas Pepih Nugraha, wartawan Kompas.  Tentang jurnalisme kolaboratif, jurnalisme partisipatoris. Topik itulah yang kemudian menjadi salahsatu pilihan diantara topik lain pada majalah Tempo edisi perdana di tahun 2007, edisi  45/XXXV/01 – 7 Januari 2007  Kado awal tahun buat saya. Ada nama saya di sana. Sayang banget, nama saya keliru
J Enggak apa-apa sudah…

He he he Sekali – kali masuk media massa.. Udah berkali-kali ding. Dulu, perdana, pas keterima ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) tahun 1996 lalu. Berikut ini berita selengkapnya…he he he…. Ketika Warga Menjadi WartawanBeberapa situs berita mengandalkan sumbangan tulisan dari pembaca. Akurasinya dipertanyakan.    Pemerintah Kabupaten Blitar sewot bukan kepalang. Penyebabnya berita di situs Halamansatu.net. Baca saja selengkapnya, ”Pemerintah Kabupaten Blitar berencana membangun kompleks lokalisasi pelacuran terbesar di Jawa Timur. Mereka menganggarkan dana Rp 92 miliar. Di kompleks ini juga akan berdiri kafe, karaoke, dan diskotik. Diharapkan, kompleks pelacuran ini akan dapat menyaingi kompleks Dolly di Surabaya.” 

Ketidakbenaran berita itulah yang membuat mereka marah. Herry Nugroho, sang bupati, yang ketiban sampur karena merasa tak pernah mengeluarkan kebijakan seperti itu. Banjir kecaman kontan berdatangan ke alamat pemerintah Kabupaten Blitar. Usut punya usut, berita tersebut ternyata merupakan ulah hacker yang mengobrak-abrik isi situs Kabupaten Blitar. Berita miring yang bersumber pada hasil karya hacker itulah yang kemudian nampang di Halamansatu.net. Sempat menjadi pemberitaan di beberapa media lain, heboh ”proyek lokalisasi” itu akhirnya reda setelah Pemerintah Kabupaten Blitar menyampaikan bantahan resmi. Apa yang dilakukan Halamansatu.net boleh jadi melanggar etika jurnalisme tentang peliputan yang berimbang. Inilah risiko yang mesti ditanggung situs berita yang mengandalkan tulisan dari para pengakses. Di situs ini, semua orang bebas menyumbang tulisan apa pun tanpa dibayar. Merekalah yang menjadi para pemburu dan penulis berita alias wartawan.  

Redaktur Pelaksana Halamansatu.net, Dianika Wisnuwardhani, menuturkan, situsnya yang baru beroperasi dua bulan silam bercita-cita menjadi jembatan informasi bagi berita yang tidak termuat di media konvensional. ”Bukan cuma berbagi berita, tapi juga bercerita tentang apa pun,” katanya. Situs berita yang diisi oleh warga ini mulai berkembang saat berlangsung pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 1988. Ia muncul sebagai ”perlawanan” terhadap pemberitaan media konvensional yang dianggap mengandung bias politik. Pelopor situs-situs semacam ini, antara lain, Jay Rossen, dosen University of New York. Ia berprinsip masyarakat dapat berperan aktif dalam mengumpulkan, menganalisis, dan menyebarkan informasi. Prinsip ini kemudian dikenal sebagai jurnalisme warga alias citizen journalism. Di Korea Selatan, prinsip ini terbukti meraih sukses besar. Tengok saja situs OhmyNews yang didirikan oleh Oh Yeon-ho pada Februari 2000. Situs itu kini menjadi salah satu media paling berpengaruh di Negeri Ginseng. Saat Roh Moo-hyun terpilih sebagai presiden, OhmyNews menjadi media pertama yang mendapat kesempatan wawancara. 

Kini, OhmyNews yang berslogan ”Every citizen is a Reporter” mempunyai lebih dari 42 ribu kontributor berita yang menyumbang hampir 200 artikel per hari. Berita versi bahasa Inggrisnya digarap bergotong-royong oleh sekitar 900 ”wartawan” warga dari 85 negara. Di Indonesia, perkembangan jurnalisme ini belum sepesat Korea Selatan. Halamansatu.net, misalnya, baru mempunyai 59 penyumbang berita dan tiga awak redaksi. Redaksi tetap diperlukan untuk menyelaraskan tulisan yang masuk.Ada pula situs Wikimu.com yang sebulan lebih tua dari Halamansatu.net dan memiliki 100-an penyumbang berita. ”Hampir tidak ada penyumbang berita yang berprofesi sebagai wartawan,” kata Adrianto Gani, Presiden Direktur Puspa Intimedia, pemilik Wikimu. Masih ada lagi Panyingkul.com yang usianya hampir enam bulan.

 Bagaimana dengan akurasi berita? Agar kasus seperti Kabupaten Blitar tak terulang, Halamansatu.net mengandalkan saringan oleh tim redaksi. Konsep ini agak berbeda dengan Wikimu yang berpendapat komunitas pembacalah yang harus menjaga akurasinya. ”Kalau ada berita yang salah, pembaca sendiri yang meralatnya,” kata Bayu Wardhana, pengelola Wikimu. Sayang, lantaran usianya masih terhitung belia, rata-rata sumbangan tulisan baru di situs-situs ini masih bisa dihitung dengan jari tangan setiap harinya. Itu pun rata-rata berupa artikel berdasarkan minat penyumbang, bukan berita aktual. Contohnya, Lita Mariana yang aktif menyumbang tulisan di Wikimu. Ibu rumah tangga ini rajin menulis soal isu kesehatan. ”Sebagai orang tua saya butuh memahami ilmu kesehatan praktis,” katanya. Bagi Lita, menulis di Wikimu dan halaman blog miliknya mendatangkan kesenangan tersendiri.  

”Saya sangat bahagia apabila sesekali mampir ucapan terima kasih dari orang-orang yang merasa terbantu oleh tulisan saya.” Lita bisa lebih bahagia karena baru-baru ini datang tawaran menulis artikel di tabloid dan membuat buku kesehatan gara-gara hobinya menulis di Wikimu dan blog. Sapto Pradityo Sumber : Majalah Tempo edisi. 45/XXXV/01 – 7 Januari 2007  

Perbedaan utama antara jurnalisme warga dengan jurnalisme mainstream adalah report dan share. Pewarta pada jurnalistik mainstream melaporkan atau to report. Sementara saat warga menjadi pewarta ia sedang menjalankan fungsinya sebagai warga yang sesungguhnya yakni membagi atau to share.  

Jurnalis atau pewarta mainstream dilarang keras untuk menyampaikan opininya. Meski toh hanya sepatah kalimat. Dikhawatirkan, opini yang diberikan tersebut bisa mempengaruhi persepsi pembaca.  Warga bebas berbagi apa saja di sini. Di sebuah tempat yang memang menyediakan fasilitas itu. Salahsatunya di sini. Saat berbagi, warga sangat berhak menyampaikan opininya. Ia berhak bertutur, bercerita, atau sekadar melaporkan. Tentu dalam hal ini warga memiliki gaya khasnya dalam menyampaikan sesuatu. Kelebihan lain pewarta warga adalah proximity atau kedekatan secara geografis. Dengan demikian seorang warga benar-benar menguasai topik yang tengah dibaginya dengan warga lainya. Pun jika ada hal yang berdampak langsung kepada dirinya. Hal paling mudah adalah terjadinya peristiwa kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada lokasi bencana lumpur Lapindo, beberapa waktu lalu. Sangat bisa dipastikan, tulisan pewarta mainstream akan berbeda jauh dengan warga yang berbagi. Seorang pewarta mainstream bisa jadi akan menyampaikan dialog Presiden SBY dengan warga yang terkena dampak lumpur Lapindo. Tak akan ada pelibatan emosi dan perasaan dalam tulisan tersebut. Sementara goresan pena warga yang terkena dampak langsung kemacetan akibat kedatangan SBY akan lain ceritanya. Dengan gayanya sendiri, ia akan berbagi tentang kekesalannya. Maunya cepet lewat tol karena mesti ada kepentingan, eh malah kejebak macet… Emosi, perasaan, dan berbagai uneg-uneg akan tumplek bleg dan hal itu akan terasa sekali dalam tulisannya. Hasilnya? Impresi atau kesan pembaca akan lebih mengena….  Anda bisa bayangkan  kekuatan sebuah tulisan dengan pelibatan perasaan secara penuh. Akan terasa perbedaannya dengan tulisan yang datar tanpa rasa. Dan warga sebagai pewarta akan mampu melakukannya dengan sempurna.. J Smg semuanya bisa berjalan sesuai rel dan memperkaya warna media di Indonesia. Selamat datang deh di jurnalisme partisipatoris! 

Advertisements

Comments»

1. muk's - January 4, 2007

Jurnalisme kini milik semua orang.
selamat buat kru halamansatu.net!

2. arul - January 7, 2007

wah keren-keren…. pengen juga jadi salah satu pengisi berita di halamansatu.net

3. arul - January 9, 2007

koq halamansatu.net gak bisa dibuka yah?

4. l.u.t.v.i.e - January 18, 2007

Ya Allah jeng Dian, Betapa aku mendapatkan banyak hal baru dari perkenalan saya dengan sampean. trima kasih yang tiada terhingga karena telah mengenalkan aku pada ‘duniadunia baru’ yang belum sempat aku temui selama hidupku. terus berkarya. ibu pertiwi akan bangga mempunyai anak seperti Anda. Robbena daiman fi ‘aunina.

5. JaF - January 26, 2007

Waah.. aku juga baru baca tuh artikelnya Mas Pepih.. Selamat. Semoga ini jadi tambahan suntikan semangat buat halamansatu.

Oya mbak, aku kok gak iso login ke halamansatu yo? Udah register kok. Opo gak nerima orang Singgapur ? hehehehe

6. wardhani - January 29, 2007

iya
tuh jadi satu semangatnya..

Enggak kok, Mas..bisa ..bisa…
Saya udah tahu kok klo Mas Rane udah regiter
bahkan udah status author
so tinggal nulis aja kok

Btw, klo tetep susah kirim deh tulisan ke saya
dianika.wardhani@yahoo.co.id
ntar saya up load deh ya
ditunggu!!!

Sukses deh..thanks

7. Kang Kombor - February 25, 2007

Semoga halamansatu menjadi sebuah wadah jurnalisme partisipatif yang besar, Mbak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: