jump to navigation

Generasi Masa Depan yang Terlupakan October 29, 2006

Posted by dianika wardhani in Berita, Catatan Kecil, Curhat.
trackback

Sekadar cerita. Mungkin bisa dikaitkan dengan keberadaan  hari Sumpah Pemuda yang jatuh hari Sabtu (28/10) lalu. Ada dua fenomena yang memaksa saya untuk percaya bahwa hal itu memang ada. Satu sisi tentang kondisi masih buruknya penanganan pemuda putus sekolah. Satu sisi tentang keberhasilan seorang rekan saya yang berhak menyandang predikat Juara II Pemuda Pelopor Jawa Timur 2006 bidang Pendidikan yang bakal dianugerahkan dalam Upacara Sumpah Pemuda di Gedung Grahadi Surabaya, Senin (30/10).

Satu sisi, medio minggu lalu saya ke dokter. Saya duduk di deretan pasien. Sebelah saya seorang ibu tengah mengendong putrinya. Sakit panas tak kunjung reda. Anak kedua dari dua bersaudara. Anak pertamanya, perempuan. Seingat saya ia biasa dipanggil Lis. Tak sekolah. Ada di rumah. Jika memang ada kesempatan meneruskan,  mungkin ia telah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) klas dua.

Saya hanya bisa mengangguk-angguk mendengar ceritanya. Perempuan itu bercerita  juga kalau anaknya sempat mendapat panggilan untuk masuk ke sebuah sekolah perawat di Bojonegoro. Tak ada lagi biaya yang harus dibayar. Kesempatan berikutnya datang saat seorang tetangga menawarkan untuk bantu SPPnya. Tetapi sekali lagi dilarang. “Alah, Mbak, ya taklarang. Lha wong  biaya hidup juga mahal. Jane ya sakne, tapi ya piye maneh  (Sebetulnya ya kasihan. Tetapi bagaimana lagi) ? SPP saja? Lha terus lainnya cari dimana?”

Sisi lainnya, seorang rekan saya, mendapat anugerah Juara II Pemuda Pelopor Jawa Timur 2006 Bidang  Pendidikan. Sehari-harinya, ia menjadi Kepala Sekolah di sebuah institusi pendidikan Islam di Kabupaten Probolinggo. Beberapa waktu lalu, ia sempat bercerita tentang diikutinya seleksi pemuda pelopor Jawa Timur. Tapi saat itu, ia merasa tak bakal menang.  Saya tak bertanya banyak saat itu. Bukan apa-apa. Lebih karena ia, kami, sama-sama berada dalam satu kegiatan saat itu.

Apapun, saya berpikir, anugerah yang diterima oleh Nur Ayati, begitu nama rekan saya, pantas saja. Sebabnya, ia sosok perempuan pinter, cerdas, anggun, dan peduli  dengan lingkungan sekitarnya. Belum lagi, ia meniti karier pendidik, mulai dari bawah hingga kini dipercaya memegang jabatan sebagai kepala sekolah. Kalau saja, saya berkesempatan bertemu dengannya, saya ingin mengucap selamat kepadanya. Semoga amanah bernama anugerah itu bisa dijalankan sebagaimana mestinya.

Lantas, tentang  Lis. Saya tak ingin berkomentar banyak. Atau mungkin lebih tepatnya tak bisa berkomentar banyak. Tak cuma Lis kasus semacam itu. Banyak deretan Lis lain yang mungkin tak pernah terendus media massa. Padahal… siapa pun tahu, di pundak merekalah nasib negeri ini akan bergantung?

Advertisements

Comments»

1. rile - October 30, 2006

saya juga pernah mengeluh, merasa kasihan juga setiap kali perjalanan surabaya blitar ato blitar surabaya seringkali melihat anak-anak kecil2 yang lucu2 bahkan balita2 yang di bawa ibunya mengamen. Sejak kecil sudah dididik untuk membiasakan tangan di bawah.

2. Guntar - November 5, 2006

Teman sampean sepertinya bener2 cerdas deh. Dari Probolinggo kan ya.

Hmm…sepertinya begitulah generasi muda Probolinggo. yg cowok juga tak kalah keren lho.

*kabur :mrgreen: *

3. kakilangit - November 6, 2006

nah itu masih untung mbak ibunya lis masih sadar, walaupun kejiret masalah ekonomi. nah yang ruwet kalo orang tuanya udah gak ngreken lagi, walaupun ekonomi sangat bukan masalah. hasilnya kayaknya lebih hancur lagi mbak.

4. Generasi Yang Hanya Bisa Bermimpi « Fahranism™ - November 7, 2006

[…] Setelah membaca artikel mBa Dian tentang generasi masa depan yang terlupakan, aku jadi sedikit berfikir, bagaimana nasib anak-anak yang terpaksa harus kehilangan keceriaan masa kecilnya karena harus mengais rizki yang bahkan mungkin bukan untuk dinikmatinya sendiri. Sudah bertahun-tahun sejak bang Iwan mengabadikan perjuangan “si Budi kecil” dalam sajak iramanya, tapi tetap saja potret mungil calon penerus bangsa ini masih menghawatirkan. Tidak tersindirkah pemerintah? […]

5. dianika - November 7, 2006

Pendidikan Indonesia masih di persimpangan, Suf
Padahal, kalo kelamaan di persimpangan akan gampang ditabrak mulai mobil, sepeda motor, becak, dan lain2….

Tersindir sih..tapi mungkin masih repot gimana mulainya…

6. Dino - November 7, 2006

Yang beruntung wajib mengembalikan ke masyarakat dengan apapun yang mereka miliki, entah itu uang maupun ilmu atau yang lainnya untuk generasi berikutnya. Pendidikan-lah yang akan memajukan bangsa ini.

7. wardhani - November 7, 2006

Iya…
Klo istilah pemerintah sih subsidi silang ya

Sayang, Mas, pemerintah belum merasa bahwa pendidikan adalah langkah untuk memajukan bangsa ini..

8. giffari - November 10, 2006

kebanyakan anak2 kecil tuh kan disewa dari “delaer” nya.

dealernya untung, anak kecilnya merugi…

gak percaya? ada datanya tuh di rumahku.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: