jump to navigation

Indonesia Ranking Dua Dunia… Paling Porno! August 8, 2006

Posted by dianika wardhani in Berita, Catatan Kecil, Curhat.
trackback


Indonesia menambah prestasi lagi.
Indonesia menduduki ranking dua paling porno di seantero jagat. Hingga saat ini, belum ada azas legal yang memayungi tindakan pelanggaran aspek porno, bahkan yang dilakukan oleh media sekalipun. Kondisi
Indonesia cukup permisif tentang hal ini.

Tokoh perempuan
Indonesia, Khofifah Indar Parawansa, di Surabaya, Sabtu (5/8) kemarin, menyatakan kegelisahaannya. Dalam diskusi terbatas itu, Khofifah memang mengemukakan ranking satu ditempati oleh Rusia. Akan tetapi, saya pun sepakat jika kita tidak perlu ngiri dengan posisi itu. “Semestinya kita mengelus dada. Tidak ada payung hukum yang mampu menggertak para pelanggar itu,” kata anggota
DPR RI itu dengan nada getas.

 

Alumnus Universitas Airlangga yang juga mantan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Surabaya itu lantas memaparkan deretan peraturan di Indonesia. Peraturan yang dikemukakan mulai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Undang-Undang Penyiaran, hingga Undang-Undang Pers. “Semuanya tidak memiliki ketegasan tentang porno itu,” tandas Ketua Umum PP Muslimat NU itu.

Bahkan, media pun kadang begitu rupa saja, tanpa tedeng aling-aling menyampaikan peristiwa tentang atau nyerempet porno-porno begitu. Tentu yangn jadi pembenar selalu aspek keterbukaan dan kejujuran. Artinya pernyataan bahwa pers harus mengemukakan fakta menjadi alasan paling kuat.

 

Usai diskusi terbatas, kami, saya dan tokoh perempuan itu, sempat berbincang tentang prestasi
Indonesia di peringkat dua itu.

Yok opo iki, Dian?” katanya dengan logat Suroboyo medok.

Lho yok opo lho, Mbak. Lha medianya juga kayak gitu. Yang seperti Mbak katakan di diskusi tadi,” ujar saya.

 

Saya cukup memahami kegelisahannya. Betapa deretan media kuning dijajakan layaknya media lainnya. Bahkan cukup laris. Iya, saya pun paham bahwa masyarakat kita tidak bodoh dalam memilih media, yang dianggap cocok dengan kebutuhannya. Pun kelangsungan hidup media ada di tangan pembacanya. Tetapi, apakah kita harus berharap bahwa masyarakat kita telah cukup cerdas dalam melihat dampak negatif media? Lalu bagaimana tanggung jawab media atas tugas luhurnya yakni pendidik masyarakat?

 

Perdebatan tanpa ujung dan pangkal. Itulah yang kemudia ada jika dilakukan atas fenomena media. Satu sisi, media mengemban tugas mulia mendidik masyarakat. Ini mengandung makna media harus terus bersemangat melaksanakan misi memberikan pendidikan dari berbagai aspek kehidupan bagi masyarakat. Satu sisi, media merupakan industri yang juga berorientasi profit. Media membutuhkan iklan untuk memperpanjang nafasnya. Satu sisi, pengiklan hanya akan menaruh advertorialnya pada media yang memiliki pembaca dalam jumlah riil. Satu sisi, pembaca yang menggemari hal-hal porno merupakan golongan dengan
massa riil. So, ini masih jadi pekerjaan rumah kita semua. Entah sampai kapan…

 

Advertisements

Comments»

1. Guntar - August 8, 2006

“pembaca yang menggemari hal-hal porno merupakan golongan dengan massa riil”

Saya pikir salah satu PR kita adl menemukan massa riil yg bukan penggemar hal2 porno; dan ini pasti ada kan. Setelah itu, kita bikinkan media buat mereka. Krn komposisi kekuatan media skr saya lihat belum balance. Begitu mudahnya content media diarahkan ke kecenderungan tertentu.

So, siapa nih yg bertugas kumpulkan massa riil penentang pornografi? 🙄

2. jimmy - August 19, 2006

klo memang Indonesia menduduki peringkat 2 paling porno,,, kenapa Indonesia jadi sok munafik.. Buar RUU lah ‘ntah apa lah. Padahal dibalik semua itu lebih parah lagi,,,

3. aalinazar - August 23, 2006

masak sih Indonesia nomer 2 paling porno ?
Padahal di Indonesia cari pantai nudis aja sulit lho.

Jadi bingung dengan bagaimana cara menghitungnya.

4. phrostypoison - August 23, 2006

setuju tuh. penilaian dari mana ini?

5. ncus - August 24, 2006

Nudist itu bukan Porno, tapi Nudity (telanjang). Telanjang itu gak porno.

Yang disebut Porno diasosiasikan dengan Pornography, yaitu gambar-gambar yang mengandung gambar yang secara terang-terangan memperlihatkan organ kelamin atau proses sex, yang dapat meningkatkan gairah sexual.

ini dari kamus inggris “printed or visual material containing the explicit description or display of sexual organs or activity, intended to stimulate erotic rather than aesthetic or emotional feelings.”

Jadi, benahin dulu arti kata Porno!!! Baru bikin action..Tau arti Pornography aja belum dah bikin RUU sigH!

Yang perlu ditegakan untuk menurunkan peringkat Porno itu adalah ketegasan petugas alias Pak Polisi!!! Coba kalo polisinya tegas gak bakal ada DVD porno di lapak-lapak yang di jualin ke anak SMP….

Tapi balik lagi juga ke diri sendiri, berapa lama kalian gak nge-browse situs porno?? Hayoo!!???

6. wadehel - August 25, 2006

Itu dapat angka nomor 2 dari mana? Main klaim atau memang hasil perhitungan yang bisa dipertanggung jawabkan? Dari lembaga mana?
Belum lama SBY mainan angka kemiskinan, sekarang Mbak KIP ikut-ikutan, besok siapa lagi?

Menurut saya harusnya Indonesia itu urutan pertama, bukan kedua!

*baru aja nutup bbrp tab yg browsing ImageFlap*

7. edys - September 1, 2006

whatt…saya pikir itu bagus untuk intropeksi diri. dengan dapat peringkat 2 berarti kita harus bisa legowo dengan segala konsekwensinya. pantes saja teman saya yang sekolah di Madrasah Tsanawiyah tiap hari yang dilihat VCD BF bersama teman sekelasnya, bumi gonjang-ganjing……astaugfirullah….

8. hasanfendi - September 1, 2006

hai

9. dianika - September 2, 2006

Tentunya memang harus instropeksi. Paling tidak kita jadi tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada bangsa ini. Saya kira apapun bentuknya kita harus mampu melihat pandangan bangsa lain atas bangsa kita..

10. lolo - September 3, 2006

Harusnya kita bangga Bangsa kita masih ada prestasinya walaupun itu porno.

11. dianika - September 4, 2006

jangan begitu dong ya
justru kita mesti berbenah …

12. pakdewin - September 5, 2006

Pornografi di Indonesia itu tolok ukurnya tidak jelas, jangan tolok ukur arab saudi atau timur tengah yang dipakai, jelas tidak cocok. Coba pakai tolok ukur irian jaya, atau bali, pasti tidak porno.
Kita ini sudah impor mobil, jagung, beras, gula, bbm, pesawat, handphone, laptop, dan banyak lagi, mosok tolok ukur pornografi saja harus impor? Kapan mau maju dan mandiri. Saya setuju masalah kesetaraan gender dan kekerasan dalam rumah tangga, khususnya terhadap wanita dan anak-anak harus lebih diperjuangkan, disoasialisasikan, seperti perjuangan mbak Nurul Arifin .

13. indra - September 5, 2006

semua masukan tdk masalah n kita jadikan instropeksi diri kenapa kita dikatakan seperti itu…
Indonesia banyak memiliki hal positif yang lebih baik dari itu..
Hal positif mari kta pertahankan dan hal negatifnya mari kita jadikan ladang amal untuk memberantasnya…

14. dianika - September 5, 2006

Saya sepakat. Negeri ini tak hanya kaya kepulauan. Akan tetapi kaya persoalan yang menunggu untuk dibenahi.
Deretan persoalan itu terlalu kompleks untuk ditangani pemerintah sendirian.
Artinya pemerintah butuh partner strategis untuk itu. Rasanya tuidak adil kalau kita semua mengandalkan pemerintah untuk memecahkan persoalan itu.

15. gura - September 5, 2006

#6 Iye g setuju ama Wadehel.. Yang buneng aja main peringkat2 kayak gitu. Jangan nambah paradox politic donk. Kita udah kenyang makan angka-angka statistik yang nggak bener.

#2 Jimmy-jimmy.. masa nggak ngerti juga.

#10 tuh lolo aja lebih bisa legowo, melihat sisi positif dari hal negatif.. sayangnya positif dikali negatif tetep aja hasilnya negatif..

16. dianika - September 6, 2006

Apapun deh .. harapan saya, segala yang terjadi di negeri ini akan menambah kearifan pada diri kita…

17. rahsy - September 6, 2006

/me juga ikutan bingung, itu bilang peringkat 2 dari mana ?
miris sih mendengarnya, walau gak tau itu benar atau tidak toh itu sudah ada yang mengatakan. Tapi menurut saya, itu masih lebih baik, dari pada kita tidak “mendapatkan” peringkat pornografi lagi karena pornografi itu sudah menjadi sesuatu yang umum, yang artinya dimanapun, kapanpun, kita bisa liat sesuatu yang porno. hiyy… kasian anak2 kita nanti.

Negara ini memang banyak masalah, karena penduduknya begitu banyak dan sangat sulit diatur – termasuk…?? – dan ada benarnya kata aa gym, mulailah dari sekarang, mulai dari yang kecil, mulailah dari diri sendiri. Semakin banyak kita tau kejelekan diri – dan semoga kita termasuk yang ingin memperbaiki – Insya allah, perubahan akan terjadi.

18. dianika - September 6, 2006

Amin..

19. rici - September 7, 2006

CAYOOO

20. mBahe - September 8, 2006

setuju dg Pakdewin….dengan apa yang dikatakan sbg ” TOLOK UKUR PORNO”.kita hrs bs lebih jauh mengenal Bangsa ini,agar jelas n tahu apa arti Pornografi itu dr bangsa kita.jangan membawa nama suatu GOLongan sbg T.u.Pgf (Tolok Ukur Pornografi),krn kita tahu n sdh djelaskan bhw hal yg menyangkut PORNO d semua Ajaran PASTI dilarang.jgn jdkan bangsa semakin hancur hanya krn pikiran2 yg picik n gak punya prinsip.

Mendingan kita mikir gmn cranya dpt hidup saling membantu satu dg yg lainnya n tetap berpikir Positif n berprinsip……gittuuu lohhh

21. dianika - September 8, 2006

Sip … sip… sip….

22. PATIHUL RAHMAN - September 9, 2006

ASTAGA,Indonesia nomor 2,padahal di indonesia mencari “TENDA BIRU” BARGEST JA SULIT

23. PATIH - September 9, 2006

SEMOGA JA INDONESIA CEPAT JADI NO 1,KLU DA TEMPAT YANG SIP KIRIM KE E-MAIL AKU YA SAYANG DI PATIHUL@YAHOO.CO.ID

24. dianika - September 10, 2006

he he ini namanya pelanggaran…
Off the record aja klo hal2 gituan. 🙂
Btw, thanks udah singgah..

25. adit - September 29, 2006

*TEPUK TANGAN*, itulah negara qta, bener2 HEBAT

26. arief - September 29, 2006

Kita jadi ranking 2 karena yang bikin polling mungkin adalah negeri antah berantah di mana hal-hal porno sudah “diatur” hukum dan didukung polisinya. Jadi, di sana kalo ada yg menampilkan perilaku seksual di muka umum (pake media massa), ya langsung di tangkap. Di Indonesia kayaknya blm ada tuh majalah terbitan Indonesia asli yang isinya manusia telanjang dan merangsang.

Tambahan juga, di Indonesia, pemerintah mungkin pinter-pinter-licik aja: nunggu sampe ada majalah yg nampilin pornografi kyk foto2 genital yg merangsang (non kedokteran, tentunya), lalu dibredel, diciduk rame-rame, padahal sebelumnya dah di-approve sama kementrian Informasi ….

“Manusia selalu mengidap keanehan di setiap harinya …”, Shakespeare

27. wardhani - September 29, 2006

Tidak ada komentar lanjutan. Saya menulis report usai ngikutin diskusi terbatas bareng Mbak Khofifah.

Trus, Mas Arief.. thanks udah mampir…. Memang sih nggak ada yang vulgar gar…ada juga tapi nggak terlalu di-ekspose..

28. Chemi - September 29, 2006

berarti UU APP gak ada apa-apanya donk………..

29. dianika - September 30, 2006

Ada atau enggak pengaruhnya.. yang jelas UU itu ada untuk mempertahankan jati diri bangsa. Begitu istilah para wakil rakyat itu.

Tetapi, smua sudah terlanjur. UU itu udah kadung ada. So, tinggal dilihat saja sejauh mana bisa bertaring….

30. ewepe - October 10, 2006

UU itu sebagai koridor saja…
Adanya saja masih belum membuat diriku bebas dari belenggu majalah vulgar.
Minimal saya merasa dihargai oleh pemerintah via UU APP. At last…ada juga hal benar yang bisa dihadirkan oleh wakil – wakil saya di pemerintah.

Terakhir, ada atau tidaknya UU APP…tidak selayaknya bangsa ini mendapatkan peringkat itu…

Setuju?

31. dianika - October 11, 2006

Seyogyanya memang seperti itu. Saya sepakat dengan Anda.

Tetapi pun kita mesti mahfum bahwa media -majalah vulgar-begitu Anda mengistilahkan, memiliki pasar tersendiri. Itulah yang membuat mereka bertahan. Jika pasar tidak menginginkan, maka sangat mungkin media yang bersangkutan, maka ia akan tergerus jaman.

Jadi, jika majalah, media kuning, semacam itu tetap ada, maka sangat bisa dipastikan sebagian masyarakat yang menginginkan media itu rupanya tetap ada. Nah, bagaimana dong caranya? Kita juga yang kebagian pekerjaan rumah untuk mengatasi, atau paling tidak menguranginya.

Caranya? Nah itu dia yang mesti kita pikirkan bareng 🙂

32. iwan - November 10, 2006

tapi jujur saya suka juga kok

33. isadikin - November 17, 2006

Hehehehe. Lucu juga. Tapi datanya dikutip darimana? Saya kok merasa ini cuma pekerjaan orang yang cari sensasi aja. Bukan urusin hal yang riil seperti kemiskinan (mungkin karena ga mampu) malah bikin pernyataan dan seminar ga jelas berdasarkan data yang ga jelas dengan hasil yang ga jelas juga apa solusinya. Judulnya aja udah kampungan dan provokatif: “Indonesia Ranking Dua Dunia Paling Porno.” Kaya judul berita di tabloid2 ga jelas yang cuma memancing orang buat beli. Jangan2 ini ulah pihak2 anarkis buat pembenaran perbuatan dan rencana mereka selanjutnya aja.

34. verry - November 23, 2006

sebenarnya ini adalah tugas kita bersama, tidak ada kata tidak , urusan porno bukan tugas kaum ulama, pendeta atau pemerintah. yang utama adalah penguatan pendidikan informal di dalam keluarga sebagai unit terkecil yang berhubungan setiap saat.
kita tidak bisa menimpakan masalah pornografi ke suatu lembaga. kita tidak bisa menghilangkan tapi meminimalis

35. dianika - November 23, 2006

ya saya sepakat dengan perkataan Anda. Semua pihak mesti turut menyelesaikan itu. Bukan ding, lebih tepatnya memperkecil kok.

36. Kristian - December 2, 2006

Apa sih yang gak masuk ranking buat Indonesia ???
Coba deh dibuat list hal-hal yang menjadi ranking top 10 buat Indonesia : korupsi, pornografi, utang and so on.
Aku kadang mikir, kenapa kok malah pendidikan and kesejahteraan masyarakat Indonesia gak bisa masuk top 10 ya ????
Apakah semua sudah bertukar tempat di Indonesia ini ????
Kalo menyinggung masalah pornografi, Aku sih gak mempersalahkan dari manapun hasil polling itu berasal. Tapi kalo dilihat-lihat memang masalah seks, pornografi dan sejenisnya gak bisa dibendung di Indonesia. Kurangnya pemahaman tentang kehidupan seksualitas masih sangat kurang. Hal-hal semacam itu masih dianggap tabu, dianggap sebagai hal yang tidak sopan. Gak heran kalo banyak anak-anak ato orang pengen tau apa itu seks dan pornography……

37. flowery - December 13, 2006

iya
sedih liat bangsa ini digerogoti sama barang2 haram

saya yang masi muda aja jijik ma pers sekarang

ga malu buka aib sesama manusia

kayak nggak punya nurani aja

38. flowery - December 13, 2006

aku doain per masa depan lebih baik

39. flowery - December 13, 2006

klo udah peringkat satu aku dikabarin yaaa…

ntar aku ganti kewarganegaraan

(^.^)

40. Pemalu tampan - December 15, 2006

yang dukung porno silahkan….dan yang dukung anti porno silahkan….yang penting nggak gangguin kelelakian gue….setuju……..kan adil tuh namanya…hehehehehe
lu telanjang di depan gue…awas lu…. “gak nyambung yah”..!!!

:-))

41. Arman - June 16, 2007

Jangan Asal tuduh aja dong….! Indonesia itu Negara kita. Ingat itu… Jangan Suka menjelek – jelekan negara sendiri (udah jelek qo masih di jelek – jelekin sich ?) Jangan suka membuka aib negara kita……!

42. B4716UR - November 2, 2007

Apa yg gak ranking di indonesia buat gilas koruptor aja sulit ap lg porno grafi. Udah tau gak kepanjangan KUHP mungkin dikit yang tau artiny Kalau ada uang Habìs Perkara 😀

43. dianwardhani - November 2, 2007

jangan gitu ah 😀

Smg segera ada perubahan di negeri ini

44. sedeg - January 28, 2008

manusia lahir dari dulu tanpa busana,tanpa materi,cuman membawa tubuh yang halus dan lembut yang di berikan sama tuhan,kenapa kita harus mempermasalahkan porno setiap orang dari jaman dulu telanjang kan tanpa busana,mandi bareng di sungai,kepasar gak pakaian lengkap ,tapi sah sah aja,sekarang kembali kediri kita masing masing,iya kan…………..

45. pakdewin - February 5, 2008

Semua tergantung pikiran orangnya, kalau pikirannya kotor, butek dan sumpek, ya nganggep porno. Coba lihat sapi telanjang, bayi manusia telanjang, patung telanjang (di italia banyak lho patung marmer bagus-bagus karya michel angelo) kok tidak terangsang yaaa… Memang semua orang punya rasa ingin tahu, setelah tahu lalu malah bosen, jengkel, mendongkol, nendang, nampar, nyiram pake air panas .. akhirnya cerai berai .. menjadi kekerasan dalam rumah tangga.
Menurut para bijaksana, yang penting mengembangkan rasa kasih sayang, cinta kasih, supaya indonesia tidak berantem melulu, yang banyak rejeki supaya banyak menyumbang .. bukankah kita makan sehari tiga kali dan beraknya satu kali jadi kalo bisa 30% disumbangkan …. …

46. karwo - May 28, 2008

I’M NOT AGREE ABOUT THAT BUT IF RANKING NUMBER ONE I AM VERY VERY HAPPY AND AGREE

47. dafi rizki syahputra - January 3, 2009

hati hati ntar kena uu pornografi makanya jgn aneh aneh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: