jump to navigation

Surabaya dan Gempita Merdeka (2) August 7, 2006

Posted by dianika wardhani in Berita, Catatan Kecil, Curhat.
trackback

Masih tentang seputar Surabaya dan perayaan kemerdekaan ke 61 Republik
Indonesia. Saya masih ingin bercerita tentang sisi lain suasana gegap menyambut Agustus. Tentu masih bercerita tentang Susana khas Surabaya yang mungkin juga ditemui di tempat atau
kota lain, di wilayah negeri ini.

Gempita merdeka ala
Surabaya. Jalur angkutan umum yang saya tumpangi hari Minggu (6/8) kemarin juga harus beralih karena sebuah papan bertuliskan Ada Kegiatan Warga nampang di tengah jalan. Biasanya kalau ada papan seperti itu, sopir angkutan umum akan mengeluarkan sumpah serapahnya. Tetapi kala itu tidak seperti biasanya. Sopir angkutan umum, dan beberapa penumpang mahfum. Mereka rela melangkahkan kaki menuju tempat yang seharusnya dapat langsung mereka jangkau pada hari biasanya. Tak ada protes.

 

Gempita merdeka ala
Surabaya. Salahsatu kawan saya, pengusaha papan atas
Surabaya, menjadwalkan ulang pertemuan dengan saya. Alasannya sederhana saja. “Aku masih ngurusi tujuh belasan di kampung, kelurahanku. Nanti saja setelah tanggal tujuh belas,” katanya di ujung telepon. Saya iyakan saja. Dalam hati saya bersyukur perayaan tujuh belas Agustus menyatukan lintas etnis dan golongan. Asal tahu, kawan saya itu etnis Tionghoa.

 

Masih gempitan merdeka ala
Surabaya. Mall
Surabaya menyambut dengan cara lain. Siang itu saya menyaksikannya. Bertabur diskon. Mulai baju, celana, buku, bahkan potong rambut.
Para pengelola ingin merayakan tujuh belasan. Kalau dipikir-pikir, tidak ada hubungan antara tujuh belasan dengan potong rambut. Tetapi sepertinya pemilik salon itu cuek saja. Mungkin ia berpikir pokoknya ikut merayakan. Habis perkara.

 

Gempita merdeka ala
Surabaya. Cat jembatan merah di dekat kawasan Jembatan Merah Plaza (JMP) terlihat kusam. Entah kapan terakhir tempat saksi sejarah pertempuran arek-arek Suroboyo pada 10 November itu tersaput cat. Di sekitar tempat itu juga terkesan kumuh. Belum lagi deretan bangunan kuno yang diganti bangunan baru. Sayang sekali, kemarin, saya tidak sempat memperhatikan kondisi Tugu Pahlawan, jadi saya tidak bisa bercerita di sini.

 

Apapun bentuknya, perayaan tujuh belasan ini sarat makna. Yang terpenting adalah satunya semangat memberikan nuansa lain seiring bertambahnya usia negeri ini. Satunya tekad untuk mengisi waktu masa-masa pascakemerdekaan. Pada akhirnya menjadi bagian dari cita-cita masa depan
Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku!

 

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: