jump to navigation

Surabaya dan Gempita Merdeka (1) August 7, 2006

Posted by dianika wardhani in Berita, Catatan Kecil, Curhat.
trackback

Masih menghitung hari menuju 17 Agustus 2006. Akan tetapi,
Surabaya sudah berhias sejak jauh hari. Deretan lampu warna warni berjejer di jalan jelang malam
Surabaya. Seluruh bagian masyarakat berjuluk
kota Pahlawan ini merayakan gempita merdeka dengan caranya sendiri.

 

 

Gempita merdeka ala
Surabaya. Setiap kampung berlomba mengadakan perayaan. Mulai panjat pinang hingga lari kelereng. Dari balap karung hingga sepakbola pakai sarung. Jalan sehat berhadiah juga selingan goyang senggol ala artis lokal kampung setempat.

 

Gempita merdeka ala
Surabaya.
Ada pagelaran teater di Gedung Cak Durasim Taman Budaya JawaTimur, Sabtu (5/8) malam. Pementasan bertajuk Jamila dan Sang Presiden digelar oleh Ratna Sarumpaet didukung diantaranya oleh Peggy Melati Sukma. Pagelaran yang diilhami kasus trafficking atau penjualan perempuan itu bertutur kehidupan seorang pelacur. Belum ada komitmen jelas untuk penanganan kasus semacam itu. Paling tidak, momen kali ini bisa jadi tepat untuk menyadarkan orang bahwa masih ada bagian masyarakat yang belum merdeka.

 

Gempita merdeka ala
Surabaya. Masih di Taman Budaya JawaTimur, pada waktu yang sama. Saya tertarik pada tiga orang perempuan yang berada di pendopo. Mereka memainkan selendang. Satu mengajari, dua orang lainnya sedang menyimak. Perempuan yang mengajari, kalau saya taksir mungkin berusia sekitar 27 tahunan, tampak sabar dan telaten. Lamat-lamat suara gamelan Jawa terdengar menyeruak di tengah riuh rendah pengunjung Taman Budaya. Gending atau irama tari Ngremo, tarian khas
Surabaya. Sekadar tahu, tarian ini biasanya dipertunjukkan pada pembukaan acara resmi. Irama tari itu pernah begitu dekat dengan saya. Hampir tiap bulan Agustus, bertahun lalu, saya sering diundang untuk menari Ngremo, dari satu tempat ke tempat lainnya. Bisa jadi perempuan pengajar itu tengah mempersiapkan keduanya untuk perayaan tujuh belasan entah dimana.

Advertisements

Comments»

1. Guntar - August 8, 2006

“bertahun lalu, saya sering diundang untuk menari Ngremo, dari satu tempat ke tempat lainnya.”

Lho, orang lamongan nari tarian khas surabaya? :mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: