jump to navigation

Generasi Masa Depan Masih di Pinggir Jalan July 28, 2006

Posted by dianika wardhani in Berita, Catatan Kecil, Curhat.
trackback

Kelelahan terlihat jelas di setiap sudut mukanya. Meski demikian, kelelahan itu tak cukup kuat mengaburkan pancaran kecerdasan di matanya. Setumpuk media cetak edisi pagi dengan berbagai nama digenggamnya dengan kuat. Masih tersisa beberapa, sementara matahari sudah lama menuntaskan tugasnya di hari itu. Namanya David.

 

Sosok bocah kecil itu saya temui di atas kendaraan umum yang saya tumpangi sepulang kantor kemarin petang. Bocah cerdas. Itu kesimpulan sementara saya. Setiap pertanyaaan seorang ibu yang ada di sebelahnya dijawab dengan lugas. Ia pun dengan lancar bercerita tentang berita yang ada di media edisi hari itu. “Saya kelas lima,” katanya dengan logat Madura kental .

Ditambah tangguh dan hebat. Itu kesimpulan saya berikutnya. Bagaimana tidak. Setiap hari ia duduk di bangku sekolah hingga matahari berada tepat di atas kepala. Tas dan seragam berganti dengan baju sekenanya lepas tengah hari. Berada di tengah lalu lintas dekat Jalan Gubeng Kertajaya. Usai maghrib beranjak, ia berpindah di kawasan Jalan Pandegiling dekat pasar Keputran. Mungkin karena lalu lintas di sana lebih ramai sehingga ia bisa menyandarkan harapannya di sana. Minimal untuk hari itu. Sampai di rumah, pukul sebelas malam. Kelelahan tak mampu melibas semangatnya untuk belajar. Entah ia bisa bertahan hingga pukul berapa untuk menyempurnakan hasil belajarnya di sekolah hari itu. Saya tak sempat bertanya. Yang saya tahu, ia anak kedua dari lima bersaudara. Yang saya dengar dari celotehannya, bapaknya seorang pengemudi kendaraan umum, sang bunda ada di rumah sembari menjaga toko. Yang saya pahami, ia bersemangat untuk terus belajar.

Mungkin masih ada David-David lain di Surabaya ini. David dalam wujud tanggung jawab lain yang belum semestinya bergayut di pundak bocah sekecil itu bisa jadi bertebaran di Surabaya ini. Generasi masa depan bangsa yang masih berkeliaran di pinggir jalan itu bisa jadi jumlahnya ratusan.

Bisa jadi ia tahu jika hari Minggu kemarin, 23 Juli, adalah Hari Anak Nasional. Tetapi saya kira ia akan mengacuhkannya atau bahkan tak memikirkannya. Jauh lebih mementingkan tanggung jawab masa depan yang entah akan berwarna apa.

“Ada Koran Kompas, Dek?”, tanya saya pada bocah kecil itu.

Ia mengangguk.

“Kasih Mbak kembalian dua ribu aja,” kata saya saat ia hendak mengembalikan uang kembalian. Cukup untuk membayar tarif kendaraan umum.

Saya turun di Jalan Urip Sumohardjo. Berbaur dengar entah berapa orang yang sama dengan saya, terlepas dari pekerjaan hari itu.

Dalam hati saya mengeluhkan kenyataan itu. Sisi hati saya tersentuh oleh lagu Iwan Fals yang pernah dan mungkin akan selalu masyhur di sela putaran waktu.

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu

Dalam hati saya berharap ia kelak meraih cita-citanya. Merangkul semua harapannya. Saya menghela nafas panjang sebelum menyambut tugas saya malam itu. Naskah buku itu harus selesai saya edit malam ini! Tetapi itu bukan beban buat saya. Saya senang melakukannya.

 

Advertisements

Comments»

1. Guntar - July 29, 2006

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu….

Bagaimana dengan kita coba? (saya sendiri juga ngaca)

Semoga kita jadi orang2 yg tau diri dg berbagai anugerah yg kita dapatkan. Semoga kita sudah cukup berupaya keras utk menjadi bijak dg segala aktivitas pemanfaatan waktu keseharian kita.

2. wardhani - July 29, 2006

Semoga saja!

Terima kasih atas kunjungannya!

3. madhusein - August 3, 2006

Bicara ttg anak dan remaja yang tercampakkan masa depannya selalu bikin miris. Hormat saya buat anda yang menuangkan concern melalui tulisan ini. Amat menyentuh…

4. wardhani - August 4, 2006

Saya sepakat dengan Anda. Rasanya miris kalau kita kembali berbincang tentang anak Indonesia. Terlebih bagi mereka yang ada di jalanan. Seolah tak ada lagi yang peduli. Banyak pihak yang menjual mereka tetapi berada di bawah payung bernama kepedulian. Entah kapan lingkaran itu akan terputus.

Terima kasih. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan membagi cerita tentang mereka…

5. fans berat ML (MatahariLain) - August 9, 2006

sama seperti kita….
yang setiap saat selalu mendapat cobaan dari-Nya dalam bentuk yang berbeda sesuai dengan kemampuan masing-masing diri…

sama seperti kita
yang setiap saat selalu ada diujung jalan, mencoba untuk memilih jalan yang ingin kita tempuh, entah itu halal atau diharamkan ……

sama seperti kita
yang terkadang buta akan setiap nikmat-Nya, larut dalam semua kesedihan, kesombongan dan keserakahan……

Astaghfirullah

Ya Tuhanku, bukalah mata hati kami, untuk merasakan deras cintaMu..

211181

6. dianika - September 4, 2006

sama seperti mereka
tidak pernah ada cita-cita untuk terpuruk di pojok kehidupan

sama seperti mereka
yang tidak pernah berharap menjadi beban bagi orang lain

tetapi…
sama seperti kita
bahwa kita pun tak punya kuasa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: