jump to navigation

Jurnalisme Presisi vs Jurnalisme Kolaborasi July 12, 2006

Posted by dianika wardhani in Berita.
trackback

Selamat datang Kolaborasi! Nampaknya kita harus bersiap mengucapkan selamat tinggal pada jurnalisme presisi. Aliran yang menjadi otak jurnalistik investigatif itu tinggal menunggu waktu untuk tenggelam. Kini, pelan tetapi pasti aliran berpindah ke hulu bernama jurnalisme kolaborasi. Apa sih salah presisi hingga ia mendapat kartu merah dan harus melangkah keluar dari jagad media.

Kolaborasi menjadi menarik karena mengusung interaktif, akrab, dan dekat satu sama lain. Orang akan dengan mudah mengeluarkan suaranya. Puluhan ribu orang di luar
sana dapat membuat sesuatu yang besar hanya dalam hitungan menit. Hasilnya tak kalah dahsyat dengan besutan jurnalis profesional. Interaktivitas itu dapat dengan cepat menyebar karena fasilitas blog yang menjamur.  

Dengan adanya blog, semua orang bisa mencurahkan isi hatinya. Tanpa batas. Tanpa merasa perlu melanggar kaidah. Bahkan kaidah jurnalistik sekalipun. Tak akan ada yang protes. Tak dapat dielakkan adanya komentar, baik pro maupun kontra. Tetapi justru disanalah indahnya kebersamaan jurnalisme kolaborasi. Tak perlu mengindahkan hal paling penting dalam kaidah jurnalistik bernama validitas data. 

Jurnalisme presisi mungkin akan tetap berharga di hadapan media
massa tradisional. Pada jurnalisme presisi, perkembangan jurnalisme memfokus pada kerja pencarian data. Arah kerja jurnalistik membentuk ukuran ketepatan informasi empirik. Hasil liputan ditujukan untuk mencapai kredibilitas bagi penginterpretasian masyarakat. Mereka menargetkan akan informasi yang terukur.  

Kini, masyarakatlah yang akan menentukan. Tetapi bisa dipastikan jurnalisme kolaborasi akan menempati garda terdepan dalam peran eksplorasi ide dan emosi. Itulah yang diinginkan masyarakat. 

Advertisements

Comments»

1. Guntar - July 17, 2006

Eksplorasi ide dan emosi? wah.. khas kaum venusian deh 😀

Gimana2, saya pikir perlu ada guideline atau aturan main yg kudu dipatuhi bersama, agar media kolaborasi ni menjadi wacana yg pantas utk dikonsumsi oleh “semua” orang.

Klo media kolaborasi diibaratkan spt demokrasi, maka demokrasi pun punya aturan. Apalagi, media kolaborasi akan sangat intens bertemu dg opini, desas desus hingga fakta subyektif.

Dan saya sendiri nggak akan meninggalkan jurnalisme presisi. Saya masih butuh fakta, di samping opini orang2 atas fakta tsb.

2. dianika - July 17, 2006

Aturan main jelas perlu. Saya sepakat itu. Aturan main yang tentu saja bersifat sangat global sehingga tidak ada yang merasa dipersulit. Jangan lupa, kekuatan terbesar media ini adalah kolaborasi. Ada dialektika di sana. Satu aspek yang kurang mendapat perhatian media-media lain.

Jurnalisme presisi dengan data akurat. Seyogyanya memang begitu. Akan tetapi, ironisnya, banyak media massa saat ini seringkali memanipulasi data demi naiknya oplah mereka. Faktualitas data sering dipaksakan. Apalagi yang bentuknya statistik. Percaya atau tidak, begitulah potret buram media yang saat ini mengendalikan
opini masyarakat. Sedih ya…

3. mupi - July 17, 2006

saya suka quote:
“Kolaborasi menjadi menarik karena mengusung interaktif, akrab, dan dekat satu sama lain.”

bagus mba tulisannya, saya juga ikutan mendaftar, mm… itu pun kalau bole, saya pernah tinggal di jl sumatra, jember, dan masih suka ke sana kalo cuti….

salam kenal, mupi

4. wardhani - July 17, 2006

Soal jurnalisme kolaborasi, saya kira itu sangat terbuka bagi sapa saja. Cuma, di Indonesia, belum ada yang memiliki visi interaktif, akrab, dan dekat satu sama lain.

Makasih udah singgah. By the way, sohib saya, namanya Wahyu, tinggal di Jalan Sumatera. Ia anak SMAN 2 Jember.

Ok, salam kenal juga. Keep in touch ya. Smg sukses slalu!

5. firman firdaus - July 18, 2006

“Kini, masyarakatlah yang akan menentukan. Tetapi bisa dipastikan jurnalisme kolaborasi akan menempati garda terdepan dalam peran eksplorasi ide dan emosi. Itulah yang diinginkan masyarakat.”

walah, ini quote dapat darimana mbak? udah ada riset soal ini? saya rasa, jurnalisme kolaborasi selamanya akan menjadi suplementary alias pelengkap.

eniwei, salam kenal. blognya bagus…

6. dianika - July 18, 2006

Opini saja boleh to.
Yang jelas, di luar sana, ambil contoh OhMyNews di Korea, udah jadi bagian dalam kehidupan masyarakat. Mimbar bebas di panggung kehidupan. Kalau selama ini media massa cenderung kurang dialogis, bahkan dalam acara atau format interaktif sekalipun. Masih ada nuansa penggiringan opini di sana. Saya kira, cepat atau lambat, jurnalisme kolaborasi akan juga jadi trend di Indonesia.
Belum percaya? Just wait and see aja deh.

Anyway, salam kenal juga. Terima kasih udah singgah!

7. edyyakub - August 5, 2006

ass,
kawan, jurnalisme kolaborasi itu
jurnalisme anak-anak
masak tinggal kolaborasi saja nggak becus?
tapi, alangkah indahnya
bila kita bukan anak-anak
bila kita bukan ngikuti orang/barat
itulah pilihan yang “gila” !
wass,

8. dr zhivago - September 6, 2007

jurnalisme intinya penyampaian informasi.
Dan masyarakat kini dapat turut serta menjadi pewarta.
SElamat!

9. dr zhivago - September 6, 2007
10. esl - February 9, 2008

jurnalisme adalah mencari, mengumpulkan, dan menyampaikan informasi. Kalau itu tidak dilakukan maka bukan jurnalisme namanya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: