jump to navigation

Menanti Elang Letih Bertualang June 10, 2006

Posted by dianika wardhani in Cerpen.
trackback

“Sampai kapan kamu akan begini, Fi?”
Suara lelaki di depanku itu seolah menggantung di udara.
“Rin, kamu dengar tidak. Sampai kapan kamu akan membiarkan dirimu terpuruk?”
Aku tidak ingin menjawabnya. Pun aku tidak ingin membantah perkataan lelaki di depanku.

Keduanya tak mungkin kulakukan. Riza, sosok yang kini ada di depanku itu adalah orang yang kelewat susah dibantah. Bukan hanya karena kami bersahabat sejak semester dua di kampus. Tetapi lebih karena ia terlalu mengenalku.

Suara sumbang tentang kedekatan kami, tidak membuatku surut langkah untuk tetap memposisikannya sebagai orang yang dekat denganku. Banyak orang yang menyatakan kalau Riza hanya ingin memanfaatkan kedekatanku dengan birokrat kampus. Meski lain Fakultas,ย  hal itu tidak menghalangi kami bersahabat. Lain versi, Riza menaruh hati kepadaku. Aku tidak ingin ambil pusing. Kami tetap dekat satu sama lain. Teman-teman sekost-ku pun sangat mahfum saat ia yang berkunjung. Hampir tiap hari kami tidak pernah lepas satu sama lain. Kalau toh tidak sempat bertemu, kami akan saling menelepon. Bertukar cerita tentang aktivitas seharian. Berbagi kisah sepanjang waktu yang kami habiskan tanpa kehadiran yang lain.

Suatu siang, Riza berkunjung ke tempatku. Ke Lembaga Pers Mahasiswa Sastra. Teman-teman yanng ada di sekretariat memanggilku. Pelaksanaan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar yang telah dekat, membuatku hampir tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Riza.
“Fi, tadi mas Budi Kordiat menemuiku…”
Aku mendongak. Nama yang disebutnya barusan membawa anganku pada sosok atletis, pemegang pucuk pimpinan organisasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
“Mas Budi, Ketua Senat?”
“Lha iyalah, Fi. Memang ada yang lain?”
Suara Riza terdengar jengkel.
“Mas Budi bilang aku yang diproyeksikan naik jadi ketua himpunanย  mahasiswa administrasi. Menurutmu bagaimana? Aku bisa ta, Fi? Aku tidak yakin… Saat kusampaikan hal itu pada teman-teman angkatan sembilan enam, mereka semua mendukungku. Kamu tahu Aji, ketua angkatan, ia siap menjadi tim sukses.”

Suara Riza pelan. Ada keraguan yang kutangkap. Aku tersenyum mendengar penjelasannya. Pemuda itu tidak pernah yakin dengan kemampuannya. Padahal aku yakin ia memiliki bakat itu. Bakat menjadi pemimpin. Tetapi ia tidak pernah menunjukkan itu. Ia seolah ingin menenggelamkan diri, memilih menjadi biasa-biasa saja. Padahal, ia adalah mantan ketua OSIS, anggota Paskibra, dan ketua tim Karya Ilmiah di sekolahnya. Saat itu aku sengaja tidak menjawab apapun.
“Fi, aku harus bagaimana. Aku enggan. Tetapi aku tidak ingin mengecewakan teman-temanku. Aku takut mereka kecewa. Haruskah akku maju, Fi?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya mengangguk.

Sejak itu aku jarang bertemu dengannya. Akan tetapi aku slalu memantau perkembanganya. Ia sering berjalan dengan mas Budi Kordiat. Sibuk mengurusi pemilu kampus. Hingga kemudian ia terpilih menjadi Ketua Himaistra. Kemenangan telak. Jumlah suara yanng diperolehnya mencapai dua kali lipat dari perkiraan. Aku semakin jarang bertemu dengannya.Hanya saat pertemuan sesama pengurus organisasi kemahasiswaan. akan tetapi komunikasi berjalan seperti biasanya. HUbungan kami tidak pernah terganggu. Kami masih bersahabat. Bahkan menurut perasaanku, semakin dekat. Gosip kedekatan kami pun semakin santer. Tentang kecocokan karena sama-sama ketua di organisasi kemahasiswaan. Sekali lagi aku menganggapnya angin lalu. Hingga suatu ketika, Riza datang kepadaku. Berbeda dengan biasanya. Ia terlihat kusut.

“Ada apa, Za?”
Riza diam. Ia memandangku.
“Za. Ada apa?”
Kulihat ia menghela nafas. Membuangnya kuat seolah ingin melepaskan penatnya.
“Aku bisa gila, Fi. Aku nggak sanggup mendengarnya. Sampai kapan aku menyimpannya. Aku menantikan saat itu, Fi. Aku ingin mengatakannya, Fi. Aku hanya bingung caranya. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku takut merusak yang telah ada. Mengertilah, Fi… Maafkan aku, Fi..”

Aku bingung dengan perkataannya. Riza berkata tanpa kendali. Sejak sore itu kami tidak pernah bertemu. Hanya pada saat wisuda. Kami wisuda bersama. Bertemu kedua orang tuanya. Lalu kami sama-sama menghilang. Hingga aku terdampar di Surabaya. Kudengar ia telah bekerja di Semarang. Hidup bersama dengan Rika, istrinya. Riza akhirnya memilih Rika, adik kelas yang memujanya sejak lama. Rika, yang pantas bersamanya. Hingga tiga minggu kemarin, kami bertemu di Surabaya. Ia tengah dinas di kota ini.

Aku tersentak saat Riza memanggilku.
“Apa yang kau cari, Fi? Impian itu hampir ada di genggamanmu. Aku lelah menantimu, Fi. Menanti yang tidak pasti itu melelahkan. Hingga kemudian aku memilih Rika. Gadis itu menyayangiku setulusnya. Ternyata aku buta. Aku terlalu asyik dengan angan-anganku. Bahwa memang aku tidak pernah salah telah menyayangimu. Aku bahkan beruntung tetap memilikimu sampai sekarang. Sampai detik ini. “

Aku belum juga mengeluarkan suara.Aku melemparkan pandangan ke lalu lintas Surabaya yang mulai lenggang. Hampir pukul sepuluh malam. Masing-masing masih mengenakan pakaian kerja. Entahlah. Tiba-tiba cerita tentang Hendra mengalir. Tentang kebersamaan kami. Tentang banyak hal yang kami lakukan bersama.

“Fi, raihlah ia. Dari ceritamu aku melihat kalau kalian sesungguhnya saling mengagumi. Tetapi tidak ada yang berani memulai. Singkirkan gengsimu, Fi. Sekali ini saja. Hebat sekali laki-laki itu ya, Fi. Kekagumanmu padanya begitu membubung. Meski aku belum berani menyatakan kamu telah jatuh cinta padanya. Terlalu pagi. Akan tetapi ini sudah di luar batas. Yang kutahu itu tidak pernah terjadi. Apalagi dengan perkenanmu. Jadi, raihlah ia. Katakan kau menyayanginya. Jika memang ia ternyata tidak pernah menganggapmu lebih dari sekadar sahabat, bukan lantas kamu kalah. Kalian pasti tetap bisa bersahabat. Apalagi kamu termasuk orang yang all out dalam persahabatan. Tidak sulit buatmu tetapi sakit memang. Tetapi itu akan jauh lebih baik daripada menantinya letih bertualang. Itu pilihanmu, Fi…”

“Ada pilihan selanjutnya, Za? Adakah pilihan lainnya?”

Suaraku terdengar parau. Aku merasa berada di tengah tebing yang seolah akan menghimpitku. Keletihan tiba-tiba menyergapku. Riza mengangguk. Matanya meyakinkanku.

“Pilihan kedua memang sakit. Kamu harus melepaskan dirinya darinya. Tidak..tidak… aku tidak ingin katakan bahwa kamu harus memutuskan persahabatan dan pergi darinya. Tidak. Aku yakin kamu tidak ingin menyakitinya dengan meninggalkannya. Aku hanya ingin kamu menarik diri. Untuk sementara saja. Caranya kamu lebih tahu. Biarkan elang itu terbang sesukanya. Ia memiliki dunia seluas angkasa. Ia masih ingin berkelana. Relakan ia, Fi. Tapi kamu pun punya dunia sendiri. Raihlah impianmu sendiri, Fi. Dan memang kamu tidak harus pergi…”

Aku belum bersuara.

“Aku laki-laki, Fi. Ia juga laki-laki. Kami egois. Kami paling senang membiarkan diri berada dalam keseharian dengan kekaguman berlebih dari seorang perempuan. Kami senang berlama-lama dalam curahan perhatian seorang perempuan. Dengan atau tanpa perasaan tertentu. Kami akan marah dan kami akan protes jika tiba-tiba perhatian perempuan itu sedikit saja beralih pada yang lainnya. Meski kami seringkali tidak terang-terangan menyatakannya. Lewat mata misalnya. atau sikap yang bisa menarik perhatiannya. Dan perempuan, seolah sudah jadi kodratnya, akan tanggap. dan biasanya ia akan jatuh kasihan. Saat itu kami akan suka cita karena mampu menarik ia kembali dalam genggaman kendali kami. Selanjutnya bersembunyi seraya menepuk dada sambil tersenyum penuh kemenangan.”

Aku belum juga bersuara.

“Lepaskan ia, Fi. Lepaskan dia dari perhatianmu. Biarkan ia sendirian saja seperti kalian sebelumnya. Sebelum kalian terjebak dalam sebuah hubungan atas nama persahabatan. Adakah hubungan murni. Omong kosong. Kita sama-sama manusia, Fi. Saling kagum itu pemicu semuanya. Hingga kemudian menyeret kita dalam hubungan yang pasti melelahkan.”

“Jadi..?” Suaraku kembali menggantung.

Riza mengangguk.

“Ya. Kembalilah ke duniamu sendiri. Aktivitasmu masih menggunung seperti dulu kan. Bukan cuma kerjaan itu kan. Nah, sementara tenggelamkan diri dalam aktivitasmu. Curahkan energi ke pekerjaanmu. Lepaskan ia dengan ikhlas. Tumpukan aktivitas akan membantumu melakukan itu. Tetapi jangan pernah tutup hatimu. Bisa jadi dalam aktivitasmu kamu bertemu dengan sosok yang layak menjadi pelabuhanmu. Saat itu, berikan seluruh perhatianmu kepadanya. Berikan apa yang menjadi haknya. Kamu pun berhak mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan. Bukan siksa perasaan berkepanjangan… Pergilah, Fi!”

“Za…”

Riza mendonngak.

“Kamu yakin kan, kalau aku pasti bisa?”

Riza diam. Hanya sinar mata yang menegaskan bahwa aku bisa. Aku hanya bisa berterima kasih kepadanya. Tanpa kata. Hanya melalui mata.

“Fi…”

“Ya…”

“Lelaki itu bodoh ya, Fi. Ah, tidak. Memang susah kalau sudah kaitannya dengan perasaan. Apalagi seorang lelaki itu palinng angkuh untuk mengakui perasaannya sendiri. Apalagi seperti aku, yanng katamu orang pendiam. Kami seolah membiarkan diri kami untuk menjadi pemuja rahasia. Mengagumi orang seperti memandang bintang di langit. Keindahannya saja yang kami kagumi begitu rupa. Ketika ia pergi dan menjadi milik orang, kami memang menyesalkannya. Tetapi baiknya kami tidak pernah menuntut. Kami hanya diam-diam tetap mengaguminya. Alam bawah sadar kami masih merindukannya.”

Aku menyimak setiap perkataan Riza.

“Fi…”

“Ya..”

“Kamu tahu apa yang ada di benakku sekarang?”

“Apa?”

Riza tersenyum.

“Janji tidak marah?”

Aku bingung mendengar perkataannya. Buru-buru aku mengangguk.

“Aku jadi penasaran seperti apa dia. Seperti apa orang yanng membuatmu demikian kagum. Kayak apa sosok yang membuatmu memberikan kendali atas dirimu kepadanya, bahkan tanpa syarat. Kayaknya kamu harus mengenalkan aku padanya deh, Fi. Hebat betul. Luar biasa orang itu ya. Sosok itu benar-benar mengubahmu ya. Seperti yangn kubilang perubahan diri seseorang hanya akan ada jika orang itu berniat. Orang lain hanya inspirator.
Mata Riza menggodaku. Aku selalu jengkel kalau ia bersikap seperti itu. Serta merta kuambil tisu yang ada di depanku lalu kulempar ke arahnya. Tawa kami berdua pecah malam itu.

“Hampir tengah malam, Za.. Kamu harus kembali ke Semarang malam ini, kan?”

“Wah..wah..ngusir gaya baru nih. Kamu betul-betul telah meninggalkan kebiasaan pulang malam. Aku tahu deh ini pasti sedikit banyak akibat campur tangannya. Iya, Bu, malam ini aku akan pulang.”

Aku tersenyum mengangguk.

“Nanti deh jika aku sudah ambil keputusan.. aku akan menghubungimu…”

“Janji ya…”

“Insya Allah..”

Dan kami berpisah malam itu. Riza kembali ke Semarang, melanjutkan dunianya. Aku kembali berkutat dengan duniaku.

Kugenggam ponselku. Hari ini aku akan menghubungi Riza.

Maafkan aku, Za. Aku ternyata belum juga mampu mengambil sikap. Aku terlalu takut kehilangan persahabatan kami. Ia sedemikian berharga bagiku. Doakan saja aku segera mampu mengambil sikap. Salam untuk Rika…”

Message sent.

Maaf, Za. Ia terlalu berarti buatku. Aku belum berani mengusik keberadaan dan komitmen kami dalam bersahabat. Biarlah elang itu terbang setinggi cakrawala. Bila saatnya tiba, ia akan pulang. Entah kapan itu.

——
Surabaya, 2 Juni 2006
07.30 WIB

Advertisements

Comments»

1. l.u.t.v.i.e - January 19, 2007

wow…sangat menarik. rentetan ungkapan perasaan yang menyentuh hingga ke dasar kalbu. aku menangis lho…aku terharu…kerenn….!kapan ya aku bisa nulis seperti itu.
secepatnya..!yah secepatnya aku akan bisa, dengan dukunganmu, dengan bantuan dan do’amu, Sahabat baruku, guru kehidupan.

2. dianika - January 22, 2007

Terima kasih, Luth. Kamu pasti bisa kok. Yuk belajar bareng yuk.

Sama sepertimu. kembali, air mataku hampir tumpah usai membaca tulisanku ini. Aku tiba-tiba kangen menulis cerpen lagi.

Btw, tahu nggak, Luth, sosok dengan tambahan eksploitasi imajinasiku, di cerpen ini sesungguhnya memang ada. Dan ia menjadi sahabatku sekarang. Dan benar, tanpa perlu berkata apapun, memang kami saling mengagumi ๐Ÿ™‚

Beruntung sekali aku memiliki dia… ๐Ÿ˜€ Dah ah, semoga kesuksesan senantiasa bersamanya ๐Ÿ˜€

3. isun - August 3, 2007

ini puisi apa curahan hati anda? kalo memang curahan hati anda. memang seharusnya begitu. karena type anda banyakan mikir indahnya cinta. tak mau yang namanya pahitnya cinta! padahal kita tau indahnya dunia dengan cinta. cinta adalah energi hkehidupan. memang yang pertama cinta kepada Yang Menciptakan Cinta.
ketika cinta kita kepada Tuhan ada maka akan ditemukan banyak cinta disekelling kita. Termasuk cinta kepada lain jenis yang memang itu sudah kodrat dari yang Maha Cinta. Indah dan semangatnya hidup dengan cinta. maaf dan ma kasih ikutan nulis diblog ini.

4. isun - August 3, 2007

banyak puisi cinta dari seorang puitis tapi siapa yang banyak menggunakan/ memanfaatkan pusi itu ternyata para lelaki gombal ataupun lelaki yang mempunya pacar ataupun isteri lebih dari satu.

5. dianika - August 4, 2007

setengah curhat…setengah beneran… ๐Ÿ˜€ tetapi apapun, saya tengah berusaha melakukan eksplorasi dengan imajinasi plus realita yang pernah saya hadapi.. ๐Ÿ˜€

6. Titin - May 10, 2008

tulisanya bagus banget……….
ceriya ini seakan menceritakn keadaanku sekarang,,,aku begitu takut untuk kehilangan dia,dia menganggapQ sahabt diapn menyayangiku sprt kekasihnya tp sahbt yach kt itulah yg sll muncl dari multnya…hingga akhrnya aku tak sanggup lagi kini aku pergi jauuuuhh darinya tanpa sepengetahuanya,dia mash nengira aku ada dirumah sampai saat ini,bknya aku lari dgn smanya tp…..AKU TAK MAMPU u/ jk hrs berada disekllngnya,,,,maaf ya jd aku yg curhat,,,,salam kenl dariku( sulawesi ” sorowako “-kalimantan )


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: