jump to navigation

Menjadi Sahabat Semua Orang May 23, 2006

Posted by dianika wardhani in Harapan.
trackback

Surabaya, 22 Mei 2006
22.47 WIB

MENJADI sahabat semua orang. Selalu itu cita-cita saya. saya ingin menjadi sahabat bagi semua orang. Saya ingin menjadi pendengar bagi siapa saja. Karena apapun bentuknya, saya merasa akan mendapatkan hikmah dari apa yang mereka bagi kepada saya.

 
Satu waktu, salah satu sahabat terdekat saya saat ini bercerita tentang kakaknya. Kakak perempuannya. Satu-satunya.
“Minta doanya. Bantuan doanya ya. Kakak saya sedang dalam masalah.”
“Masalah apa?”
“Masalah keluarga. Doakan saja segera terpecahkan dan dilewati.”
Saya mengangguk saat itu seraya tersenyum.
Jangka waktu seminggu lebih, saya tanyakan kabar kakaknya itu. Belum ada komunikasi.
Saya merasa aneh. Dalam hati saya menyalahkannya.
Pikiran saya menerawang ke kakak perempuannya itu. Jauh di sana. Seandainya saja, ia tahu betapa kakaknya merindukan kehadirannya. Sekadar menyandarkan kepala di bahu saudaranya. Sekadar menyatakan kegundahannya. Sekadar mengungkapkan kesedihannya. Ia ingin bercerita dengannya. Bertukar cerita tentang kesedihannya.
Tetapi memang kadang susah bercerita. Bahkan dengan orang terdekat sekalipun. Saat itu sebenarnya yang dibutuhkan hanya satu. Seseorang hadir di hadapannya. Memegang tangannya. Merengkuh bahunya. Tersenyum seraya mengangguk kepadanya. Meyakinkan bahwa ia tidak sendiri. Meyakinkan bahwa ia layak percaya kepada orang yang kini ada di hadapannya. Selanjutnya, sabar menekuni setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Bukan saya ingin sok tahu. Bukan saya ingin menerka-nerka keinginannya. Saya memang belum mengenalnya. Saya masih mendengar dan mengetahui sosok hebat dan telatennya melalui cerita.
Tetapi saya melihat sisi lainnya. Saya seolah melihat kegundahannya. Ia ingin bercerita tetapi ia belum menemukan sosok yang mengerti kegundahannya. Bercerita kepada orang tua, jelas tiudak mungkin. Susah berbagi karena ia tentu berpikir jika hal itu dilakukan maka kemungkinan besar akan semakin membebani orang tua. Baik secara langsung maupun tidak langsung.
Akhirnya pilihan terakhir pun diambil yang sama sekali saya merasa bahwa itu bukan pilihannya. Diam dan diam. Mencoba memahami diri sendiri bahwa memang sudah SEHARUSNYA ia menghadapi dengan segenap kemampuannya.
Saya kembali menerawang malam ini. Seandainya saja saya mengenalnya. Seandainya saja saya bisa. saya ingin berada di sebelahnya. Menekuni setiap keluhannnya. Merengkuhnya ke dalam pelukan saya. Paling tidak saya ingin yakinkan bahwa ia tidak sendiri. Itu saja.
Seorang rekan kost saya memanggil nama saya. Saya tersentak. Ya, saya masih dalam angan-angan saya. Sampai hari ini saya memang belum mengenalnya.
Hampir tengah malam. Dalam jauh lubuk hati saya yang paling dalam, yang dapat mungkin saya lakukan hanya mengirim doa untuknya. Bermunajat kepada-Nya. Semoga Allah senantiasa melindunginya… Memberikan yang terbaik untuknya. Amin…

Advertisements

Comments»

1. madhusein - May 23, 2006

hai, thx sudah mampir. Tentu senang punya sahabat baru. BTW, saya sebenarnya tengah di Surabaya, tepatnya di Somerset, udah 2 hari. Ikut acara Jawa Pos Otonomi Award (bareng pak SBY, hehehe). Besok jalan ke Malang. Salam hangat dan salam kenal…

2. Doni - May 24, 2006

Dear sister,

wow…blog baru nih…congratulation ya..
moga jadi tambah rajin nulis.

minta koment nggak ?

well, I think….

tulisannya udah oke punya, udah berkarakter…
nah, mungkin kalo ada kelebihan waktu, antum bisa sedikit ‘mengeditnya’ dengan membenahi paragarafnya, alias diberi jarak gitu…
soale, antar paragrafnya masih nyambung terus. Jadinya rada lelah ngebacanya.
Ya emang sih, itu bakal menyita waktu…

and then,
punya foto atau grafis atau icon apalah gitu…
biar tambah manis…
ada memang blog yang full teks , ada juga yang suka menambahinya dengan sedikit picture. bahkan ada juga yang full picture.
kalo menurutku, kalo ada sedikit image-nya…kit-kita nih bakal sedikit terhibur…
ya, mengaktifkan dua belahan otak kanan dankiri sekaligus, maksudnya. keindahan dan sistematis…

so, sukses selalu untukmu ya…

aku punya ide,
tulis terus pemikiranmu soal sahabat,
siapa tahu, nanti digabung dengan tulisanku ttg sahabat,
kita bisa berkolaborasi, jual tuh tulisan jadi buku hehe..

seeya.

3. Guntar - May 31, 2006

Saya pikir kita ndak bisa jadi sahabat semua orang. Itu akan terlalu mengecewakan bagi orang lain, dan malah menyakitkan diri sendiri. Tentu ada beda, antara sahabat, teman dan kenalan.

Setahu saya, salah satu resep untuk ndak sukses adalah dengan berusaha menyenangkan semua orang. Itu ndak mungkin.

Bahkan Presiden aja ndak akan pernah bisa jadi sahabat semua orang.

4. nunik - June 2, 2006

wuahhh… sama… saya juga pengeeeeen banget jadi sahabat buat semua orang.. Rasanya seneng banget ya kalo bisa terwujud? Dimana-mana temen kita, dimana2 sayang sama kita, dimana2 dunia milik kita…
Indahnyaaaa…..

5. de' epik - July 26, 2006

aq sih setuju ma koment [may,31 2006] bahwa kita g kan bisa jadi sahabat semua orang.
kalo jadi teman semua orang sih bisa, tapi sahabat?wow… menjadi sahabat tu harus melalui beberapa ujian lho…
kepercayaan…
kepedulian…
pengorbanan…
berbagi sesuatu…
dll…
bagi-q sahabat adalah orang yang pertama kali ingin dijumpai dan diceritakan dan yang paling ingin q-ta dengar pendapatnya tentang cerita, ide, pikiran, dll kita…
so… menjadi sahabat semua orang?? kayaknya kok waktu kita banyak amat buat jadi orang itu…

Dan kalo aq jadi sahabat sso, aq ingin jadi yang paling ter-…. baginya, so…gak bisa kalo banyak…(mungkin rada egois kali…)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: