jump to navigation

I’ll do myself May 15, 2006

Posted by dianika wardhani in Curhat.
trackback

Surabaya, 15 Mei 200620.55 WIB

Kita lagi nonton barengan. Saya dan lima orang yang begitu saya hormat dan saya sayangi. Saya bahagia bersama mereka. Saya selalu senang melihat tawa lepas mereka. Saya senang sekali. Terlebih film yang kami tonton juga bagus. Tom Cruise dalam Mission Imposibble III. Film yang saya tunggu selama ini. Saya bahagia melihat mereka. Meski, mereka tak pernah tahu kalau saya sendirian di tepi lautan luas di hadapan saya. Biar saja mereka tak pernah tahu. Saya sudah cukup bahagia dengan keadaan saya.

 
Usai nonton, tidak ada apa-apa. Kami berenam pisah masing-masing. Saya menuju pintu selatan. Di tengah jalan saya dicegat. Diajak masuk nonton counter baru di Galaxy. Saya nurut saja. Saya diberi souvenir yang saya sendiri belum tahu apa isinya. Lumayan lama di counter itu. Selanjutnya saya memilih pergi karena saya enggan berdebat lama dengan para marketer yang berkesan memojokkan saya agar saya membeli produk mereka. Lima produk dihargai enam juta sekian ribu rupiah.
Saat sedang beradu pendapat, hp saya berbunyi. BIntang! Saya eja nama itu. Dari seseoranng yang sudah kelewat jauh saya pendam di jiwa saya yang paling dalam. Saya sempat mengaguminya dulu. Saya sempat memujanya dulu. Ketangguhannya membuat saya angkat topi padanya. Ia menjadi ordinary people dalam sebuah perusahaan PMA hingga kemudian kini ia memegang jabatan sebagai team leader di perusahaan tersebut. Dalam usia yang relatif muda. Baru menjejak di angka 30, sementara TL, begitu istilahnya, di tempat ia bekerja rata2 berusia di atas 36 – 40 tahun. Saya percaya karena itu memang kemampuannya. Singkat cerita kami saling jujur bahwa kami saling mengagumi. Ia meminta saya menunggunya. Lama tiada kabar. Tanpa memberi tahu,ia berganti nomor hp. Saya masih percaya padanya. Lain waktu ia kembalil tibatiba menghilang. Lalu ia kembali muncul. Selalu begitu. Dalam hati saya percaya bahwa ia pasti kembali. Memang ia kembali kemudian hilang tak ada kabar. hingga saya jenuh. Saya mulai malas bermain-main dengan angan-angan saya sendiri. Suatu saat saya berdiskusi dengan seseorang. Ia berkata,”Kalau memang tidak yakin, tinggalkan, daripada membebani langkah,” kata teman saya itu.Saya pikir-pikir dan saya terka maksudnya. Saya lalu ambil sikap. Saya kontak ia untuk menyampaikan keputusan saya. Kembali gagal. Calling failed.

Saya kirim pesan kepadanya. Terbanglah kemanapun engkau mau. Jemput asamu. Terima kasih untuk semuanya. Kan kujadikan engkau kenangan yang terindah dalam hidupku. Itu pula yang menjadi salahsatu sebab saya enggan terlibat lebih jauh dengan relasi yang melibatkan perasaan. Malas saya menjalaninya. Kalau pun saya ternyata harus terlibat, maka saya ingin memilih menjadi sang pecinta itu sendiri. Saya ingin menyayangi seseorang. Saya akan mencurahkan perhatian saya kepadanya. Tanpa saya ingin mendapat balasan darinya. Tentu tetap saya harus minta ijin kepadanya. Saya tidak ingin ia merasa rikuh, tidak pantas, atau bahkan enggan menerima perlakuan saya kepadanya.
Saya ingin menikmati apa yang ada di hadapan saya sekarang. Deretan kawan-kawan seperusahaan yang bercita-cita selaras dengan cita-cita saya. Itu yang membuat saya bertahan. Paling tidak dalam beberapa waktu terakhir ini.

Mereka yang membuat saya merasa hidup demikian bermakna. Bahwa skenario-Nya mahaAgung. Beruntung sekali saya ada di tengah-tengah mereka.
Senja hari ini ia kembali menghubungi saya.Selanjutnya, ia bersikeras memaksa saya untuk menemuinya. Saya menolak karena memang saya ada jannji dengan Mbak Tri, orang yang berjasa, orang yang senantiasa menyemangati saya bahwa saya bisa. saya tidak ingin mengecewakannya. Bintang ingin saya menemuinya. Ia bilang jauh-jauh datang untuk menemui saya. Saya marah. Saya bilang saya tidak bisa. Saya ada janji. Ia bersikeras. Dua kali ia menghubungi saya. Dan di ujung senja ini ada tiga misscalled yang tertera di layar hp saya. Saya yakin betul jika itu ia yang menghubungi saya. Saya sedih. Saya ingin marah. saya kecewa. saya bingung. saya tahu saya harus tegas. tetapi saya harus bagaimana melakukannya.
Pulang dari tempat kami nonton, saya menyetir tanpa hati, Bergulir begitu saja. Saya tidak tahu kemana. Hingga kemudian motor berhenti di depan masjid megah. Astaghfirullah.. Masya Allah, ada apa dengan saya??Saya terdiam di depan masjid itu entah berapa lama. Saya bingung. Saya termenung. Beberapa saat kemudian ada pesan dari sahabat saya. Sahabat yang membuat saya percaya bahwa saya bisa. Sahabat yang membuat saya menemukan diri saya kembali bahwa saya mampu melakukan sesuatu. Sahabat yang membuat saya menemukan sesuatu warna lain dalam kehidupan saya. Teman yang membuat saya kagum dan hormat kepadanya dengan seluruh yang ada padanya. Saya yakin ia tahu. Tetapi saya tidak peduli ia tahu atau tidak tentang itu. Pesan sahabat saya itu membuat saya semakin terpuruk dalam kesedihan. Ia marah dengan saya. Dengan kalimat default versi dia. Saya sih biasa mendapat marah darinya. Jujur saya tidak tahu apa yang membuatnya marah. saya tidak mengerti. Tetapi apapun, saya benar-benar menyesal kepadanya. Saya merasa saya merusak keindahan harinya, meski saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Saya tidak pernah memiliki maksud untuk membuatnya marah, atau tidak enak. Yang jelas, saya benar-benar menyesal.

Kalau toh kemudian ia membaca blog ini pun, saya ingin katakan padanya bahwa saya minta maaf. Saya tidak ingin melihat kesedihan di dalam kesehariannya. Saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuknya. Kalau toh bukan untuk sekarang, esok, tetapi paling tidak, akan berguna pada masa depannya. Entah ia tahu atau tidak… Semoga Allah senantiasa memberikan limpahan karunia dan kasih sayang-Nya dalam setiap langkahnya.
Sayup-sayup saya dengar syairKAMI YANG LEMAH TIADA DAYA UPAYA HANYA PADA-MU DIRI INI BERHARAP JIKA TANPA AMPUNAN-MU, JIKA TANPA RAHMAT DAN CINTA-MU, SESUNGGUHNYA KAMI, ADALAH ORANG MERUGI…
Ya Allah…saya kembali mengingatnya. Setelah ini tilawah… itu katanya saat usai memberikan bantuan kepada saya. Saya semakin bersalah, ya Allah. Mengecewakan orang yang telah begitu baik kepada saya.
Tentang masalah saya. BIntang mengajak saya untuk bertemu. Esok. Hari ini. Entah dimana.

Saya tidak ingin datang menemuinya. SAya merasa bahwa tidak ada lagi yang dapat dilakukan. Saya akan lakukan semuanya sendiri. SENDIRI saja. Mungkin saya hanya akan mengirim pesan kepadanya. MAaf.. Terima kasih untuk semuanya. Setelah itu, saya akan kembali menjalani kesendirian saya. Menjalani kehidupan saya. Sekali lagi menyitir kata teman saya, Saya akan mencoba sedikit lebih egois… Saya akan mencobanya mulai hari ini. Terima kasih ya. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu. Dan semoga Allah mengampuni saya….

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: