jump to navigation

Sumur Inspirasi April 25, 2006

Posted by dianika wardhani in Curhat.
trackback

HUJAN sudah berhenti sejak tadi. Akan tetapi entah kenapa aku enggan menghentikan jari-jari yang sedang bermain lincah di atas keyboard laptopku. Aku masih terlalu malas untuk menurunkan kaki yang sedang enak berjibaku di atas kursi. Aku cuek dalam bersikap.
Kantor senyap sejak tadi. Satu persatu teman-teman sudah hilang sejak tadi. Mereka mungkin sangat bisa jadi sudah berpeluk mimpi. Atau bermanja dengan angan.
Atau bisa jadi memainkan angan untuk mencari langkah alternatif sekaligus strategis untuk masa depan masing – masing.

 
Kantor telah senyap. Kami tinggal berdua. Aku dan rekan setimku. Aku enggan menyebut namanya di sini. Ia bercerita tentang seorang perempuan. Aneh. Aku tidak merasa aneh dengan diri sendiri. Semestinya aku merasa marah.

Kenapa? Akhirnya kumenemukanmu. Saat aku bergelut dengan waktu. Beruntung aku menemukanmu. Itu sesunguhnya itu yang ingin kukatakan kepadanya. Aku berteriak. Tetapi tentunya dalam hati. Aku tidak ingin merusak persahabatan yang telah terjalin demikian manis dengannya. Aku telanjur demikian percaya padanya. Satu ketika ia pernah bilang kepadaku bahwa ia suka jadi inspirator bagi orang lain.

Ups, ia bercerita tentang orang hebat. Lebih tepatnya perempuan hebat. Karena itu ia merasa salut dengannya. Wishing – harapan, Expecting – harapan dengan keharusan. Itu kalimatnya. Tetapi bukan karena itu, yang membuatnya salut. Ada faktor lain yang membuatnya salut. Ia adalah perempuan pekerja keras.

DI UJUNG pembicaraan kami sebelum jeda kosong, ia sempat menyatakan sesuatu kepadaku. Ia bilang berharap melihatku dalam kesuksesan dengan keunikan kompetensi yang kumiliki. IA ingin ada cerita yangn bisa dibagi. ENtaHlaH..apalagi kalimatnya karena aku nggak sempat mendengarnya lagi. Aku sibuk dengan pemikiran-pemikiranku.

SUDAHLAH. INI TULISAN PALING TIDAK KARUAN BUATKU. INI TULISAN PALING AWUT-AWUTAN DARI YANG PERNAH AKU BUAT. INI TULISAN PALING ANEH. MUNGKIN KARENA AKU LELAH DAN TIBA-TIBA MENYESAL DENGAN KEPUTUSAN YANG AKU AMBIL. tiba-tiba SAJA akku ingin pERGI DARI SEMUANYA… aKU INGIN KEMBALI PADA YANG SEHARUSNYA AKU INGINKAN.. tETAPI, mASYA ALLAH AKU MERASA DEMIKIAN TERBEBANI DENGAN PERNYATAAN ITU.
yA Allah..aku tiba-tiba merasa takut…. Astaghfirullah…

Tiba-tiba aku menyesal dengan keputusanku. Keputusan untuk menerima tawaran dari seorang kawan untuk membangun realitas masa depan tentang future journalisme. Satu tawaran menarik jadi aku tidak perlu lagi berpanjang lebar untuk menerimanya. Aku hanya perlu sholat hajat untuk memantapkan keputusanku.

Jika suatu ketika ia berkesempatan membaca tulisanku dalam halaman ini, aku merasa ia akan menyesal melemparkan pernyataan itu. Atau bisa jadi tidak. Karena seperti satu pernyataan terdahulu bahwa ia akan melakkukan sesuatu untuk kebaikan bagi orang lain. Jadi, tentu alasannya adalah untuk kebaikanku. Subhanallah… semoga Allah membalas kebaikannya.

saat ini, aku merasa bimbang. Jika aku melanjutkan langkah itu, maka aku takkut jika satu ketika ternyata akku tidak mampu membuat harapan itu jadi kenyataan. TEtapi jika aku tidak melanjutkan, maka sama halnya aku menjadi pecundang bagi diri sendiri. Aku seolah-olah menafikkan semua yang pernah kulakukan. Dan itu yang akan menciptakan gelombang kesedihan yang akan menenggelamkan aku setiap saat. Dan ketika itu akan kulakkukan ia juga akan kecewa. Aku juga akan mengecewakan diriku sendiri.

Subhanallah.. jam di ruang kerjaku menunjukkan waktu pukul 21 lewat 41 menit. Sudah hampir larut malam. Aku masih enggan untuk pulang. Dalam hati, sembari menulis, aku mencoba mereka-reka apa yang seharusnya aku tangkap dari seluruh kejadian hingga jelang berakhirnya malam ini. Tentunya termasuk pernyataannya beberapa menit lalu. Bukankah itu merupakan satu bentuk petunjuk agar aku semakin mantap dalam menjalani keputusanku? Bukankah semestinya aku berterima kasih kepadanya bahwa apapun akan kujalani sebagai tantangan. Seluruh pernyataannya adalah tantangan yang semestinya bisa kujadikan cambuk. Bukankan aku berulang kali menegaskan bahwa ia adalah yang dikirim dan dihadirkan untuk mengingatkan aku? Bahwa dengan hadirnya ia di tengah tim kami untuk menjadi the leader of future journalism adalah pelengkap semangatku. Terima kasih ya, Sahabat! Aku ingin menyatakan itu padanya seraya menepuk pundaknya.

Bismillahirrahmanirrahim…. Bimbing aku ya, Rabbi…

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: