jump to navigation

Menyongsong Fajar March 9, 2006

Posted by dianika wardhani in Cerpen.
trackback

“BUKANKAH seseorang tidak diperkenankan melakukan apa saja dengan niat apa pun kecuali niat karena Allah SWT?”
Aku mengatakannya dengan nada tinggi. Sengaja kutandaskan suaraku. Sementara perempuan di hadapanku itu menunduk semakin dalam. Bahunya tergetar. Sejurus kemudian terdengar isakan halus.
“Tapi, Mbak, saya tidak bermaksud melakukan itu. Salahkah saya kalau tiba – tiba saya ingin memulai semuanya setelah saya mengenalnya?”
Kurangkul bahunya. Tangisnya pun meledak.

Kejadian sore kemarin membuatku termenung. Sita, teman seperjuanganku semasa menjadi wartawan dulu, datang berkunjung. Lama tidak bertemu, kami pun saling bertukar cerita. Perkembangan di lapangan mulai sikap politik hingga persoalan banjir di Jember. Semuanya tumpah ruah.
Ada satu yang membuatku gembira saat melihatnya. Tak ada lagi jeans belel, T-shirt lusuh yang tidak ketahuan warna aslinya, lengkap jaket parasit, tas ransel, ditambah topi. Tubuhnya kini terbalut jilbab anggun. Sore kemarin ia mengenakan jilbab biru. Tambah cantik saja.
Saat itu ia sempat bercerita kalau ia dikenalkan salahsatu relasinya dengan seseorang. Aktivis masjid. Menurut Sita, lelaki itu sangat menyenangkan. Ia tidak pernah memperlihatkan kesan menggurui. Melalui diskusi panjang setiap kali bertemu, Sita mendapat satu pelajaran. Akhirnya ia memutuskan mengenakan jilbab. Tilawah Al Quran pun rutin dilakukannya.
Dalam terawang angan malam ini, aku kembali mengingatnya. Bukan hal yang aneh. Toh aku juga pernah mengalaminya. Penggalan kalimat Allah SWT itu pun menjadi bahan perenunganku saat aku mengenalnya. Lebih tepatnya setelah aku dikenalkan kawanku kepadanya. Tidak ada yang istimewa. Aku pun mulanya menganggap ia orang yang tidak terlalu menarik. Jangankan untuk bahan riset tokoh – tokoh cerita pendek yang sering kubuat, memasukkannya dalam daftar tambahan kolega saja aku merasa perlu untuk memikirkannya sekali lagi. Meski akhirnya aku memang memilih melakukan hal yang terakhir.
Dalam satu pekerjaan peliputan mengharuskan aku sering berinteraksi dengannya. Kami sering terlibat dalam satu diskusi seru. Yang pada akhirnya salah satu di antara kami mengiyakan pendapat lainnya. Seiring perjalanan waktu aku mulai melihat bahwa ia adalah sosok yang sangat menarik. Tanpa sadar aku sering mencari informasi tentang dirinya. Rasanya aku ingin mengorek segala hal dari siapa pun tentang dirinya saat begitu terlontar namanya. Tingginya frekuensi berinteraksi membuatku semakin mengenalnya. Ia adalah sosok yang sangat unik. Segala barang yang ada di dekatnya diberi nama. Selama ini, aku tidak pernah menemukan sosok seunik dia. Aku selalu tersenyum jika saja hal itu terlintas di dalam benakku. Bukan hanya itu. Ia tergolong orang yang sangat usil. Hingga kemudian aku membuat keputusan yang justru jarang sekali kubuat sebelum aku benar – benar mengenal seseorang. Keputusan untuk menjadikannya tokoh dalam salah satu karyaku.
“Aku ingin riset dan menjadikannya salah satu tokoh dalam ceritaku kelak,” kataku pada sahabatku.
Tak heran saat itu sahabatku tersentak. Ia cukup mengenalku. Tentunya ia menanggap keputusanu itu terkesan lucu. Nganeh-anehi.
“Tak salah kamu, Vin? Yang kutahu Vina selama ini tidak akan melakukan riset jika orang – orang itu sudah layak? Seorang lelaki yang belasan tahun menikah tetapi tak juga memiliki putra karena tak memilih pergi meski istrinya mengidap kanker, misalnya. Itu hanya salah satu contoh.”
“Aku sudah memikirkannya kok, Ri”
“Aneh. Ia orang biasa saja. Dulu, aktivis kampus. Demonstran. Punya banyak penggemar karena memang otaknya cemerlang, katamu, didukung kebetulan ia sosok yang kharismatik plus ganteng. Bagiku saja tidak ada yang istimewa. Apalagi bagimu. Bukankah dulu kamu pernah mengalaminya? Dikagumi banyak orang karena ide cerdasmu. Atau juga karena pemikiran dan cara pandangmu atas sesuatu.”

Aku tertawa sekilas saat itu.
“Ketawa lagi..”
Sekali lagi aku tertawa. Rika, sahabatku itu terlihat jengkel.
“Bukannya dijawab malah tertawa. Nggak ada yang lucu. Dia itu ordinary people. Kamu toh bukan tipe orang yang gampang kagum. Dan lagi, kalau tipe seperti itu bukannya dulu di kampus kita jumlahnya berjibun. Sebut saja Mahbub, Indra, Robby, Faiz, dan beberapa orang lainnya. Tapi kamu nggak pernah seperti ini..”
Aku masih tertawa. Tanpa suara.
“Atau jangan – jangan kamu memilih untuk menjadi pemuja rahasianya? Aduh, Vin, aku bener – bener nggak habis pikir deh.”
“Yang jelas, aku punya kepentingan untuk menjadikannya sebagai objek riset. Sisi lain aku nggak mungkin atau lebih tepatnya nggak berani bermimpi untuk jatuh cinta dengannya. Apalagi bermimpi jadi istrinya..”
Mata Rika melotot.
“Nggak salah tuh. Aneh. Sejak kamu mengenalnya, kamu benar – benar aneh. Artikelmu semakin sering mengulas tentang kearifan, cerdas memaknai hidup, dan sebagainya. Kamu sering tenggelam lama usai sholat. Sering menangis saat mendengar lagu – lagu nasyid. Ada apa denganmu,Vin?”
Aku terdiam. Memang kurasakan perubahan itu. Aku bukannya tidak sadar dengan perubahan itu. Aku kadang merasa tertekan. Aku bingung. Tanpa sadar aku mulai memikirkannya. Tanpa sadar aku mulai membawanya ke dalam bagian angan – anganku. Aku bahkan mengambil beberapa tulisannya. Salah satu tulisannya kini tertempel manis di dinding kamarku. Tulisan itu yang kerap membangunkan semangatku di awal pagi. Tulisan lainnya tertempel di sisi meja kerjaku. Dua tulisannya tersimpan rapi di organizer-ku. Satu hal saja yang ingin kudapatkan. Aku ingin merasa bahwa ia selalu ada di dekatku. Itu akan membangkitkan semangatku. Akan tetapi aku mulai bisa mengendalikannya ketika satu temanku mengatakan aku tidak perlu melawan rasa itu. Aku akan kalah.
“Kalau kamu memang suka padanya, kenapa kamu tidak mengatakan hal itu padanya. Atau kalau kamu merasa rikuh, bisa kamu memintaku? Aku juga toh mengenalnya. Kamu tahu tidak, aku merasa ia pun suka padamu. Nggak ada jeleknya to kalau kamu memulainya?”
Arif sekali kata – katanya. Sementara perdebatanku dengan Rika tak pernah berakhir. Aku enggan melakukannya. Aku hanya ingin menikmatinya. Tanpa perlu diketahuinya. Aku ingin semakin lama tenggelam dalam sujudku. Aku merasa sudah sangat berbahagia membawanya menjadi bagian dalam semangat keseharianku.
“Vin, kamu pernah bilang menanti fajar. Fajar itu telah datang meyongsongmu. Kamu berhak kok, Vin, meraihnya. Ini anugerah. Tetapi sekali lagi ini pilihan. Pilihlah sesuai hatimu. Semoga kamu nggak salah pilih ya… satu lagi, lakukan semuanya karena Allah ya, Dik. Bukan karena apa pun. ”
Aku tidak pernah menanggapi perkataan mbak Win, teman sekostku itu. Aku hanya Hingga kemudian aku menjatuhkan pilihan. Aku benar – benar pergi. Biarlah hanya Allah yang tahu tentang perasaannku. Aku sudah selayaknya berterima kasih telah mendapat kesempatan mengenalnya. Aku ingin menjadikannya dalam cerita pendekku saat ini. Di ujung fajar, judulnya. Aku ingin menumpahkan seluruh perasaanku. Seluruh angan – angan yang kurangkai setiap pagi, siang menjelang, hingga bumi diselimuti malam. Aku benar – benar mewujudkan di ujung fajar ini. Tinggal sentuhan akhir.

Bintang di angkasa berkelebat. Angan membawaku kembali menerobos ruang dan waktu. Mengajakku bermain – main dengan masa lalu. Angin dingin menerpa wajahku. Kubiarkan hembusannya menghampiri rambutku. Entah berapa lama aku terpaku di dekat jendela kamarku malam ini. Aku tersentak saat ada tangan merangkulku perlahan dari belakang. Ia tersenyum seraya mengacak rambutku. Allah, terima kasih karunia terbesar-Mu. Menghadirkan sosok yang diam – diam selama ini kupuja menjadi matahari dalam kehidupanku. Aku kan menjaga dan memujanya selalu di hatiku. Suara adzan Subuh menggenapi perjalanan anganku sepanjang malam ini. Kututup tirai jendela. Kusambut tangan suami memenuhi panggilan Illahi.

Surabaya, 24 Februari 2006
06.21 WIB – 07.34 WIB

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: