jump to navigation

Menuju Matahari March 9, 2006

Posted by dianika wardhani in Curhat.
trackback

“Aku pengen keluar kerja”
Ruby, sahabat sekaligus teman satu kostku tersentak. Serta merta melihat ke arahku.
“Nggak salah ta?”
“Iya mungkin salah. Aku pengen pergi dari sana. Dua hal yang membuatku berat untuk tetap berada disana. Tahu apa ?”

 
Sahabatku itu menggeleng.
“Entahlah……aku belum berani mengatakan hal ini ke siapa pun..”
Ruby memelukku perlahan.
“Sudahlah, mungkin itu lontaran emosimu sesaat. Sekarang kembali ke kamarmu. Tidurlah… Hari sudah hampir fajar. Sudah beberapa hari kulihat kamu bekerja seperti orang kesetanan. Pergi pagi pulang hampir tengah malam….”
Ruby selanjutnya melangkah pergi ke belakang. Aku kembali ke kamarku. Tidak ada yang kukerjakan di sana. Hanya termenung. Sekali lagi aku termenung. Kalau dipikir-pikir apa yang membuatku bertahan di sana. Gaji tidak seberapa. Bisa jadi separuh dari hasilku mengedit naskah yang biasanya kukerjakan selama dua minggu. Atau ukuran lainnya adalah tiga kali tulisanku di media massa. Aku toh juga bukan siapa-siapa di kantor itu.
Simpati dengan salahsatu dari teman sekantor? Bisa jadi. Akan tetapi aku yakin itu hanya sesaat. Kekaguman yang terjadi karena aku baru mengenalnya. Bisa jadi juga karena ia mengetahui banyak hal yang aku nggak mengerti. Akan tetapi, kalau boleh itu diklaim salahsatu yang membuatku kerasan di kantor itu, dan kalau aku dipaksa membuat hitungan statistik mungkin hanya 10 persen dari 100 persen.
Atau faktor lainnya. Terlanjur dekat dengan orang-orang kantor secara pribadi. Misalnya Alfan dan lainnya. Sering bertukar pikiran tentang banyak hal. Bisa jadi itupun hanya menyumbang 10 persen dari seluruh persentase yang ada.
Dekat dengan Direktur. Aku menghormatinya bukan cuma ia atasanku. Lebih dari itu. Ia orang yang enak diajak berdiskusi tentang apa saja. Satu saat kegundahanku terkait hubunganku dengan salahsatu temanku, ia pun tak rikuh memberiku masukan. Kami juga sering diskusi tentang banyak hal, Termasuk persoalan kantor yang terkadang mengganggu pikirannya. Itulah yang membuatku dekat dengannya. Lepas dari semua itu, aku sayang padanya. Aku kagum dengan seluruh istiqomahnya. Semoga kekagumanku itu benar-benar murni….
Lantas apa yang membuatmu bertahan? Pertanyaan diri sendiri itu yang sering mengusikku. Aku nggak tahu. Mungkin aku salah. Dari sekian persen, aku merasa bahwa aku memang harus ada di perusahaan itu. Aku merasa saat berbalik arahnya matahari itu akan tiba. Teman – temanku akan bersama-sama membuat sejarah. Itu pasti. Tinggal waktunya kapan. Saat ini kami sedang menuju ke sana. Meraih indahnya matahari.
Matahari di ujung fajar jelang menyinari dunia itu adalah masa indah. Masa keemasan yang bisa juga diartikan sebagai perubahan dunia. Masa perubahan sejarah. Aku selalu percaya dan yakin tentang itu. Dan itulah persentase terbesar yang membuatku bertahan di perusahaan itu.
“Aku ingin menjadi bagian dari sejarah itu,Rub!”Itu persoalan pilihan. Tak ada yang berhak mengusik pilihan itu. Termasuk orang yang terdekat sekalipun. Memang sejarah itu akan datang. Bukan atas dasar apapun. Seperti yang sering kuungkapkan pada banyak orang bahwa perubahan itu akan hadir di ujung dua hal yaitu USAHA dan KEYAKINAN.

Surabaya, 27.02.06
13.36 WIB – 14.15 WIB

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: