jump to navigation

Kearifan itu (tetap) ada January 27, 2006

Posted by dianika wardhani in Curhat.
trackback

Saya tergolong baru di kantor. Menurut hitungan kalender memang hampir lima bulan. Tetapi, saya masih juga merasa sebagai orang baru. Saya masih juga merasa terengah-engah mengejar kemampuan kawan – kawan sekantor yang menurut saya berada beberapa kilometer di depan. Terlebiih menurut saya, belum ada prestasi yang menonjol dalam pekerjaan saya. Hanya semangat yang membuat saya tetap berupaya mengejar ketertinggalan itu sekuat tenaga.

 
Satu ketika seorang rekan mengutarakan pendapatnya kepada saya. Menurutnya, apa pun bentuknya semestinya kita melakukan sesuatu yang memang seharusnya kita lakukan. Sekecil apapun, pasti akan bermanfaat. Menurutnya, saya tidak perlu berkecil hati.
Saat itu sejenak saya termenung. Dalam hati saya coba mencerna lebih dalam makna kalimat itu. Dalam hati pula saya berkata seharusnya saya berterima kasih kepadanya.
Lain waktu, suatu pagi, kami berada dalam satu rapat kecil. Rapat tim, begitu mungkin istilah tepatnya. Lumayan lama kami berdiskusi. Sampai suatu ketika kami, saya dan rekan saya, tinggal berdua saja. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba kami berbeda pendapat. Saya pun nyeletuk,”Ah, dari dulu aku selalu disalahin.”
Wajahnya agak kaget. Ia mengambil kertas lalu mencorat-coret sesuatu. Dengan agak keras ia berkata,”Prinsipku, aku hanya akan menyerang gagasan seseorang. Aku tidak akan pernah menyerang orang itu secara pribadi. ”
Saat itu sempat saya tersinggung. Saya marah. Saya sedih. Semuanya bercampur menjadi satu. Saat itu, saya coba memahami jalan pemikirannya. Tidak juga ketemu. Saya pindah meja, menyelesaikan satu pekerjaan saya yang tertunda. Saya memang bisa menyelesaikan pekerjaan itu. Akan tetapi, pikiran saya masih terbelah akibat kejadian itu.
Usai sholat Ashar, saya coba merenung. Masya Allah, bukankah Engkau ciptakan manusia itu berbeda. Jangan pernah dilihat perbedaan sifat itu. Bukankah dunia lebih indah dengan adanya perbedaan itu. Yang terpenting adalah kecerdasan kita untuk mengelolanya, dan lalu bisa saling memahami. Disitulah indahnya sebuah persahabatan. Kita bisa saling belajar dalam berbagai hal. Bahkan dalam bentuk ketidakselarasan sekalipun.
Dalam sujud panjang, saya pun menyadarkan diri. Lepas dari bagaimanapun dan siapa pun dia, kecerdasannya memahami dan memetakan sebuah persoalan, selayaknya saya contoh. Semestinya saya sadar, nilai persahabatan itu demikian agung. Seharusnya saya sadar tentang itu. Terima kasih, Rabbi! Maafkan karena betapa saya kurang bersyukur mendapat limpahan karunia-Mu!!

Surabaya, 27 Januari 2006

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: