jump to navigation

Potret Masyarakat yang Terpinggirkan January 18, 2006

Posted by dianika wardhani in Buku, Catatan Kecil.
trackback

Judul buku : On The Spot
Tutur dari Sarang Pelacur
Penyusun : Koentjoro PhD
Tebal buku : xxxii + 339 halaman
Penerbit : Tinta Jogjakarta
Tahun terbit : 2004
Peresensi : Dianika Wisnu Wardhani

Memperbincangkan persoalan pelacuran tidak pernah ada kata selesai. Fenomena tersebut tergolong cukup tua, seusia dengan manusia. Hal ini disebabkan persoalan pelacuran telah ada jauh sebelum masa modern berkembang di kalangan masyarakat. Fenomena ini dapat disebut sebagai fenomena gunung es yang berarti hanya tampak kecil pada permukaan sementara telah berakar demikian kuat di kehidupan masyarakat.Betapa kuat akar tersebut dalam kehidupan masyarakat disebabkan oleh keberadaan sistem yang memang mengabadikan fenomena itu. Bahkan ada yang secara terang-terangan cenderung mendukung agar budaya pelacuran itu terus berlangsung dalam kehidupan masyarakat.

 

Hal itu digambarkan secara lugas oleh Koentjoro melalui buku ini. Secara terang-terangan tanpa tedeng aling-aling, ia menunjukkan betapa pelacuran menjadi fenomena yang demikian terstruktur secara rapi dalam suatu masyarakat.Dalam buku tersebut diungkapkan oleh Koentjoro, banyak aspek yang membuat seorang perempuan menjatuhkan pilihan untuk menjadi seorang pelacur. Diantaranya adalah faktor ekonomi. Dalam arti lebih luas, faktor yang mengacu pada tumbuhnya nilai materialistik.Uang memberi arti lebih dari sekadar penghargaan ekonomi. Uang menunjukkan materialisme dan sebenarnya inilah faktor pengaruh yang paling kuat (hal 34).Pernyataan tersebut menunjukkan betapa pengaruh sistem yang berlaku di masyarakat dapat memaksa seseorang (khususnya perempuan) untuk menjadikan materi sebagai bagian penting dalam kehidupannya. Ia akan meraih status sosial tertinggi pada sistem stratifikasi dalam masyarakat jika memiliki sejumlah besar materi.Tidak hanya masyarakat sekitar. Lingkungan keluarga, dalam hal ini suami, keluaga besar, juga ayah serta ibunya. Mereka juga memegang peran penting mendorong seorang perempuan menjadi pilihan.Perempuan melacur karena melakukan tugas khusus keluarga,di mana orang tuanya telah merancang dirinya sebagai penanggung jawab keluarga. Dari penjelasan tersebut, dapat diperluas bahwa perempuan disosialisasikan untuk menjalankan tugas moral sebagai penanggung jawab keluarga dengan cara melacurkan diri. (hal:56)Dalam lingkungan masyarakat tertentu, orang tua menanamkan nilai pada diri seorang perempuan kelak dirinya akan memegang tanggung jawab atau tulang punggung keluarga. Jalan termudah untuk menjalankan peran tersebut adalah dengan menjadi seorang pelacur. Dengan demikian, mau tidak mau, suka tidak suka ia harus menjalani peran tersebut.Koentjoro memang demikian piawai dalam memotret kondisi riil masyarakat yang di dalamnya terdapat kehidupan pelacuran. Tidak hanya kondisi lingkungan pelacuran yang ada di Indonesia. Dalam buku ini dikemukakan data secara statistik mengenai perkembangan jumlah pelacur khususnya pelacur anak di kawasan Asia Tenggara. Negara-negara yang dikemukakan dalam buku ini diantaranya adalah Thailand dan Filipina. Selain itu, dalam buku ini diungkapkan peta anak dilacurkan untuk tujuan seks komersial di kawasan Asia Tenggara.Tidak mengherankan jika Koentjoro demikian piawai dalam menggambarkan kondisi pelacuran. Betapa tidak. Ia mulai terjun untuk melakukan penelitian tentang dunia remang-remang tersebut sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jogjakarta. Dengan demikian, ia tidak menemui kesulitan sama sekali saat melakukan penelitian partisipatif pada sebuah kawasan pelacuran.Secara eksploratif, buku ini memang sangat tepat dalam mengemukakan data-data. Termasuk diantaranya tentang kondisi sosial masyarakat yang di dalamnya terdapat komunitas pelacuran. Hanya saja, data-data yang diungkapkan mentah dan cenderung paparan. Sementara penjelasan yang ada terkesan sekadarnya. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya penggunaan istilah yang tidak konsisten. Seperti di satu saat digunakan istilah perempuan sementara saat lain ditampilkan istilah wanita. Sementara dalam hal pengungkapan diri serta kehidupan informan cenderung datar tanpa alur. Kesan yang timbul adalah pengungkapan data seadanya tanpa ada upaya permainan kalimat untuk mempermanis tampilan data.Terlepas dari adanya kelebihan dan kekurangan yang ada, munculnya buku ini patut diberi penghargaan. Ia tergolong berani dalam mengungkap kehidupan pelacuran yang selama ini masih dianggap eksklusif. Buku ini juga akan mampu membuka mata pembaca bahwa ada bagian riil masyarakat yang selama ini terpinggirkan. Atau kalau boleh secara ekstrim dikatakan, komunitas tersebut memang sengaja dipinggirkan.

Advertisements

Comments»

1. Koentjoro - July 17, 2006

Thanks atas komentarnya

2. wiwin - December 29, 2008

itu sangat benar kehidupan para pelacur saat ini semakin bebas. tanpa ada batasan dan sangat terlihat dalam keaadaan global. tetapi dalam karya ini wanita disindir sebagai kaum rendah terutama bagi para pelacur tidak ada kehormatan bagi mareka. sebenarnya mereka melakuukan ini karena terdesaknya kebutuhan.

3. hendra - July 29, 2009

ya…saya mendukung ‘wiwin’, saat ini saya sedang melakukan pendekatan realita ttg kehidupan mereka dan beberapa sudah saya temui, sambil duduk-duduk di warung dan mencoba berteman dengan mereka ya memang resikonya keluar uang sendiri krn mereka lebih bisa didekati dengan minum dan rokok, ada beberapa dan rata-rata setelah pendekatan 3x bertemu akhirnya mereka mau ngomong atas nasib mereka, dan ternyata ada yang membuatku harus menangis terharu dan sambil kutahan sampai sesak sekali dadaku….begini ceritanya : namanya S, umur 25 tahun asal jatim, dia punya anak 1 kelas 4 SD kalau saya hitung balik berarti dia umur 15 tahun sudah melahirkan dan menikah umur 14 (oooh Tuhan) bayangkan anak kelas 2 SMP dimana saat yang indah utk bermain sebagai seorang anak, tapi dia harus menikah karena bapaknya dibayar oleh seorang lelaki yang sdh punya istri 3 dan krn dipaksa akhirnya dia menikah walaupun hanya berumur 2 tahun sampai anaknya lahir, suaminya meninggalkan karena mau kawin lagi, dan akhirnya S kawin lagi dengan harapan suaminya akan bisa menafkahinya utk anaknya tapi apa lacur ternyata suami ke2 inipun sama hanya cari nikmat saja dan meninggalkannya, akhirnya dia bekerja ke kota S sebagai pelayan warung dan pada suatu hari ibunya yg dititipinya anak satu-satunya berbicara kalau bapaknya pergi meninggalkannya bak disambar geledek berat sekali cobaan hidupnya dengan umur yang masih sangat muda dia harus menghadapi hidup spt itu…akhirnya dengan tanpa berpikir panjang lagi akhirnya dia harus ikut seseorang ke tempat yang jauh untuk hidup seperti sebagai pelacur, dengan mengaku kepada ibu dan anaknya ini kalau dia bekerja di rumah makan, tapi sampai kapan dia harus berbohong. Ini membuka mataku setelah beberapa dari mereka saya tanya dan bicara dari hati ke hati hampir diatas 50% seperti itu karena himpitan kehidupan yang makin lama makin berat dan kejiwaan yang masih terlalu muda untuk menjadi tumpuan. Marilah kita renungkan kita harus berbuat apa untuk mereka.

4. irwan kusumah - December 12, 2012

saya nyari buku ini di setiap toko buku di bandung ga ada?
klo ada orang bandung yg punya buku ini kabar2 ia…

5. http://thebayleebankx.com/ - December 30, 2012

I quite like reading an article that will make people think.

Also, thank you for allowing for me to comment!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: